Friday, July 09, 2004

Debit Air Saguling Menyusut (Water Debit, Saguling)

Source: Pikiran Rakyat 9/7/2004

Akibatnya PLTA Beroperasi Hanya Malam Hari

BANDUNG, (PR).-
Meski musim kemarau belum berlangsung lama, namun debit air Citarum yang mengairi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling Kab. Bandung, sudah turun cukup drastis dari seharusnya 150 m3 per detik menjadi 15 m3 per detik.

Dampak dari kondisi itu, kini PLTA Saguling kadang beroperasi hanya pada malam saja, karena harus menunggu air untuk mencapai ketinggian yang dibutuhkan. Meski begitu, saat ini belum ada pengaruh terhadap kapasitas produktivitas instalasi listrik yang dihasilkan.

Demikian diungkapkan General Manager (GM) Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Saguling PT Indonesia Power Ir. Sumarna P., M.M., M.T., kepada "PR", Kamis (8/7), usai mengikuti acara penyerahan sertifikat Sistem Manajemen Lingkungan (SML) ISO 14001 di Gedung Serba Guna UBP Saguling, Cioray-Rajamandala, Kab. Bandung. Hadir dalam kesempatan itu unsur muspida dan undangan lainnya.

Penghargaan di bidang lingkungan bertaraf internasional tersebut diserahkan oleh Presiden Direktur PT TUV Internasional Mattius Hotten, kepada Direktur Utama PT Indonesia Power Abimanyu Suyoso. Selanjutnya sertifikat diserahkan oleh Abimanyu kepada GM UBP Saguling Sumarna.

Lebih jauh Sumarna, mengungkapkan, akibat penurunan debit itu dilakukan upaya agar debit air bisa menyesuaikan dengan kebutuhan produksi listrik. Salah satunya dengan menahan air yang masuk, kemudian pada saat digunakan tidak dikeluarkan semuanya, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan. "Kami selalu menjaga agar ketinggian air seimbang dengan kebutuhan produksi listrik tersebut," ungkapnya.

Ketinggian air yang dibutuhkan adalah berkisar antara 150 m3 per detik sampai 170 m3 per detik. Akan tetapi karena sekarang ini hanya mampu 15 m3 per detik, pengelola mengatur interval waktu dengan cara menahan air sampai kebutuhan ketinggian air terpenuhi. "Jadi kami operasikan pembangkit itu untuk sekarang ini terkadang hanya malam hari saja," katanya.

Secara keseluruhan dengan berkurangnya debit air itu belum memengaruhi kapasitas produksi PLTA Saguling yang mencapai 700,7 MW. "Pengaruhnya belum sampai mengurangi produksi listrik, hanya baru berpengaruh terhadap kontinuitas operasi pembangkit saja," kata Sumarna.

Lingkungan rusak

Direktur Utama PT Indonesia Power Abimanyu Suyoso, kepada "PR", mengungkapkan, penurunan debit air Saguling tidak hanya semata oleh masuknya musim kemarau, tetapi karena kerusakan lingkungan mulai dari hulu Citarum, yaitu di Gunung Wayang dan sepanjang bantaran Sungai Citarum hingga ke Saguling.

Sementara itu, sekarang cara yang dilakukan untuk mengembalikan debit air kembali tinggi dan tidak terjadi sedimentasi di waduk, dengan cara memperbaiki hulu Citarum dengan menanam kembali pohon bersama masyarakat. "Hulunya harus ditanam lagi, lalu dijaga dan dilestarikan. Untuk mencapai itu semua tentu saja membutuhkan keterlibatan semua pihak baik pemda setempat maupun masyarakatnya. Apalagi sekarang, di Citarum telah banyak limbah yang sudah barang tentu sangat mencemari aliran sungai," katanya.

Abimanyu mengungkapkan, memperbaiki hulu Citarum (Gunung Wayang) dan bantaran sungai, ditanami 250 ribu pohon kopi dan cokelat. Penanamannya oleh mayarakat yang tergabung dalam Masyarakat Cinta Citarum. "Target kami adalah 1 juta pohon, namun tahun ini baru terealisasi 250 ribu," ujarnya.

Selain itu, kata Abimanyu, bersama Perhutani mengoptimalkan sistem pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) serta program gerakan rehabilitasi lahan kritis (GRLK), yang dicanangkan Provinsi Jabar.

Kemudian dalam rangka mengoptimalkan air Saguling, Abimanyu meminta kepada bawahannya untuk mengoptimalkan air tersebut, dengan cara seluruh air yang lewat ke Saguling harus jadi listrik. "Kalau tidak, kami akan salahkan manajemen di sini (PLTA Saguling)," kata Abimanyu.

Dia juga berpesan, hal yang harus diperhatikan yakni menjaga air agar menghasilkan listrik sepanjang tahun, termasuk kemarau sekalipun. "Makanya kami minta atur manajemen airnya semaksimal mungkin, sehingga pada musim kemarau bisa menghasilkan listrik," katanya.