Wednesday, July 21, 2004

Fungsi Saluran Air Jatiluhur Turun 40%

Source: Pikiran Rakyat

BANDUNG, (PR).-
Minimnya dana pemeliharaan bagi prasarana pengairan di sepanjang saluran Waduk Jatiluhur, menyebabkan penurunan fungsi prasarana sampai 40%. Kalau kekurangan dana pemeliharaan tersebut terus terjadi tanpa ada penanganan, dikhawatirkan bisa mengancam ketersediaan air bagi sekira 240 ribu ha lahan sawah di pantura.

Menurut Dirum Perum Jasa Tirta II Ir. Tjetjep Sudjana, tidak hanya ratusan ribu hektare lahan sawah yang terancam, namun juga ketersediaan sekira 80% air bersih bagi kebutuhan penduduk Jakarta pun bisa terancam. "Biaya eksploitasi dan pemeliharaan prasarana Waduk Jatiluhur sangat besar, sementara kami tidak bisa memenuhi semua kebutuhan dananya," ujar Tjetje usai penandatanganan kerja sama Pemprov Jabar dengan Perum Jasa Tirta di Gedung Sate, Selasa (20/7). Kerja sama yang ditandatangani Tjetje dengan Gubernur Jabar Danny Setiawan menyangkut pemungutan pajak air permukaan dan iuran pembiayaan dan pemeliharaan prasarana di wilayah kerja Perum Jasa Tirta II.

Dikatakan Tjetje, Perum Jasa Tirta setidaknya membutuhkan dana pemeliharaan sebesar Rp 177 miliar per tahun. Namun, pendapatan Jasa Tirta dari hasil penjualan tenaga listrik ke PT PLN dan iuran pemeliharaan prasarana irigasi hanya sebesar Rp 55 miliar. "Perum Jasa Tirta saat ini hanya mampu melaksanakan pemeliharaan 35% dari prasarana irigasi yang ada. Kondisi tersebut terus saja berlangsung selama 36 tahun lalu sejak Waduk Jatiluhur dibangun," jelasnya.

Untuk Waduk Jatiluhurnya sendiri, lanjutnya, tidak terlalu bermasalah bahkan masih kuat bertahan sampai 100 tahun . "Penurunan fungsi terjadi di sepanjang prasarana irigasinya yang setiap hari setidaknya mengalirkan 6 miliar meter kubik air," katanya.

Kualitas air buruk

Pada kesempatan itu, Gubernur Jabar Danny Setiawan mengungkapkan kondisi bagian hulu Sungai Citarum yang memprihatinkan dengan maraknya perambahan dan pembukaan hutan. "Perambahan dan pembukaan hutan menjadi lahan-lahan perladangan masyarakat setempat, telah memengaruhi siklus pengendali air," katanya.

Akibat perambahan itu, terjadi erosi di sekitar hulu Sungai Citarum yang dulunya berfungsi sebagai tempat resapan air. "Hal itu menyebabkan daya dukung dan daya tampung air sebagai bahan baku Sungai Citarum menjadi berkurang," ungkap Danny.

Sementara di bagian hilir Sungai Citarum pun kondisinya makin memprihatinkan dengan semakin buruknya kualitas air dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan kualitas air di hilir akibat pesatnya peningkatan kegiatan ekonomi dan pertumbuhan penduduk di sekitar aliran Sungai Citarum yang juga dijadikan tempat pembuangan terbuka. "Untuk memulihkan kondisi Sungai baik di hulu maupun di hilir membutuhkan waktu dan dana cukup besar. Dan yang paling penting butuh perhatian kita semua," kata Danny.