Thursday, August 12, 2004

10.609 KK Banyumas Krisis Air (Central Java Water Crisis)

Source: Pikiran Rakyat

PURWOKERTO, (PR).-
Sebanyak 10.609 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah krisis air bersih. Keluarga yang krisis air bersih itu tersebar di 12 kecamatan meliputi 41 desa. Bahkan sejumlah kecamatan yang berdekatan dengan laut selatan, sumur milik warga sudah mulai terkena rembesan air laut selatan sehingga kualitas airnya menurun tidak layak dikonsumsi.

English Translation

Purwokerto, (PR).
Totalling 10,609 head of household (heads of households) in the Regency Banyumas Central Java the clean water crisis. The family that the clean water crisis was spread in 12 subdistricts covered 41 villages. Moreover several close subdistricts with south sea, the well of property of the citizen has begun to be affected by south seepage of the sea water so as his quality of the water descended not suitable was consumed.


Untuk memenuhi kebutuhan air minum, warga harus mencari ke sumber air atau sumur di desa lain yang jaraknya cukup jauh antara 2 s.d. 3 kilometer dengan berjalan kaki.

Adapun kecamatan yang rawan air bersih itu adalah Kecamatan Sumpiuh, Tambak, Kalibagor, Purwokerto Selatan, Rawalo, Kebasen, Somagede, Wangon, Ajibarang, Jatilawang, Cilongok, dan Gumelar. Jumlah kecamatan di Kabupaten Banyumas seluruhnya ada 27 kecamatan yang meliputi 330 desa/kelurahan.

Menurut Brewok (41), warga Desa Selandaka Sumpiuh, pada saat kemarau permukaan air laut selatan tingginya sama permukaan tanah di Kecamatan Sumpiuh, Kemranjen, dan Tambak. Ketiga kecamatan tersebut dikelilingi oleh anak sungai yang bermuara di laut selatan. Sehingga ketika kemarau tiba, air laut mengalir ke sungai-sungai dan meresap ke sumur-sumur milik penduduk.

"Air berubah menjadi kuning kecoklatan dan bau menyengat, sehingga tidak bisa dikonsumsi untuk air minum," katanya.

Sumur yang tercemar dengan air laut antara lain milik penduduk di Desa Nusadadi, Selandaka, Karanggedang, Clawer di Kecamatan Sumpiuh, Desa Gebangsari, dan Desa Prembun di Kecamatan Tambak.

Surat permohonan

Menurut Kepala Desa Nusadadi, Sudiman, hampir setiap tahun pada musim kemarau warganya kurang air bersih. Akan tetapi, pada saat penghujan desanya kebanjiran. Meski demikian, pihaknya belum meminta bantuan air bersih. "Saya belum sempat membuat surat permohonan bantuan air bersih, kerena tidak ada warga yang memintanya," ujarnya.

Ketua Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsian (PBP) Kabupaten Banyumas, Suyatno, S.Sos., M.Hum., kepada pers, kemarin mengakui pada setiap kemarau tiba, di beberapa kecamatan mengalami rawan air bersih dan kekeringan.

Menurut dia, meski musim kemarau sudah mulai dirasakan, tetapi dari sejumlah desa yang rawan air bersih sampai saat ini belum ada yang secara resmi meminta bantuan air bersih ke Pemkab setempat.

"Sepanjang prosedurnya benar permintaan bantuan air bersih akan kita berikan. Bantuan air bersih ke desa yang membutuhkan tanpa dipungut biaya alias gratis. Namun demikian, meski kekeringan akibat kemarau mengancam sejumlah kecamatan, kebutuhan airnya masih bisa dipenuhi walaupun terbatas. Kalau memang membutuhkan segera didrop," katanya.

Suyatno yang juga Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Banyumas mengemukakan, untuk menghadapi bencana kekeringan itu pemkab sudah menyiapkan anggaran dari pos tak tersangka. Dana pos tak tersangka yang ada di APBD saat ini masih tersisa Rp 800 juta. Dana itu sebagian akan dimanfaatkan untuk mengantisipasi bencana kekeringan.

Namun diingatkannya, masyarakat yang membutuhkan bantuan air bersih terlebih dahulu perlu membuat surat yang diketahui oleh kepala desa. Selanjutnya, surat itu dikirim kepada Bupati Banyumas c.q Kepala Bagian Sosial melalui camat.

Prosedur dengan surat resmi perlu dilakukan, karena pada tahun sebelumnya ada permintaan bantuan air bersih hanya lewat telefon. Setelah dikirim, ternyata tidak ada yang meminta bantuan air bersih. Permintaan lewat telefon itu ternyata hanya perbuatan orang iseng.

"Pemkab membuat prosedur bukan untuk mempersulit, tetapi untuk memudahkan, ada kepastian, serta tepat sasaran," ujar Suyatno.