Saturday, September 11, 2004

Sungai di Bandung, Bisa Jadi Sumber Kematian (Bandung Rivers Badly Polluted)

Source: Pikiran Rakyat

Tingkat Pencemarannya Sangat Tinggi

BANDUNG, (PR).-
Sungai Cikapundung serta 37 sungai lainnya yang mengalir di Kota Bandung, mestinya menjadi sumber kehidupan bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya. Kenyataannya, sungai-sungai itu justru menjadi sumber kematian bagi makhluk hidup akibat pencemaran yang sangat tinggi.

English Translation

His level of Pollution was Very High

Bandung, (PR).
- the Cikapundung River as well as 37 other rivers that poured in the Bandung City, apparently to the source of the life for humankind and other living creatures. The fact is, the rivers precisely became the source of the death for living creatures resulting from pollution that very high.


Tidak hanya makhluk-makhluk air sebangsa ikan yang sekarang musnah, manusia pun rentan terjangkit penyakit. Bahkan mengakibatkan kematian jika mengonsumsi langsung air dari sana. "Ini akibat pencemaran yang sangat tinggi," ujar Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kota Bandung, Papar Djafar, Jumat (10/9), saat jumpa pers di Balai Kota Bandung.

Djafar sengaja menjelaskan kondisi lingkungan Kota Bandung, menyusul adanya tudingan miring terkait pemberian penghargaan kepada Wali Kota Dada Rosada dari Kementererian Lingkungan Hidup (LH) dalam lomba uji emisi kendaraan dinas pemkot, kalangan swasta, serta perseorangan. Penghargaan berupa piagam tersebut diserahkan Menteri LH Nabiel Makarim di Kantor Kementerian LH di Jakarta, Kamis (9/9).

Menurut Djafar, akibat pencemaran yang tinggi, sungai-sungai di Kota Bandung dalam kondisi kritis. Ditambah kerusakan hutan di daerah atas (hulu-red.), praktis setiap kemarau menjadi kering. Ironisnya, setiap musim apa pun masyarakat Bandung tetap kesulitan air bersih.

"Memenuhi kebutuhan minum warga Bandung, pemkot terpaksa mengalirkan air dari Kabupaten Bandung yang jaraknya 60 kilometer. Di sisi yang sama, kandungan air bawah tanah (di Kota Bandung) juga jauh berkurang," jelas Djafar pula.

Djafar juga tidak memungkiri jumlah ruang terbuka hijau (RTH) yang berfungsi sebagai paru-paru kota kini sangat sedikit. Itu pun keberadaan sumber daya buatan (SDB) seperti taman kota, banyak yang diintervensi secara fisik seperti berdirinya gubuk/bangunan liar atau pohon pelindung yang diubah fungsi menjadi sandaran kios PKL, bahkan ditebang untuk dijadikan tiang gubuk liar.

Sementara itu, kata Djafar, 2,5 juta jiwa penduduk Kota Bandung dipertanyakan pula, apakah benar-benar menjadi modal sumber daya manusia (SDM) atau justru menjadi beban. Selama ini baik wali kota maupun dirinya tidak pernah mengatakan lingkungan Kota Bandung sudah bersih, sehat, bebas polusi, dll.

Terserah

Menyikapi pemberian penghargaan lomba uji emisi kendaraan, Papar Djafa menyatakan namanya lomba pasti ada yang menang atau kalah. Secara kebetulan, uji emisi sejak Juni hingga Agustus oleh Kementerian LH, menempatkan Kota Bandung sebagai pemenang.

"Soal penilaiannya apa, terserah Menteri LH. Justru penghargaan maupun kritik dari pihak lain, menjadi motivasi kami untuk mengembalikan lingkungan Kota Bandung menjadi sehat, bersih, dan bebas polusi," ujar Djafar.

Seperti diberitakan, hasil uji emisi menunjukkan tingkat kadar emisi kendaraan milik pemkot, kalangan swasta, maupun perseorangan rendah.

Pemberian penghargaan dari Menteri LH tersebut menuai kritik pakar lingkungan dari Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran (Lemlit Unpad) Bandung, Chay Asdak, Ph.D. Dia minta masyarakat tidak terkecoh terhadap penghargaan itu karena tidak sesuai dengan kondisi riil.

"Kalau penghargaan itu diberikan dalam kerangka sebagai pemicu upaya pelestarian lingkungan di Kota Bandung, bagus-bagus saja. Akan tetapi, kalau kita melihat dari sisi lain yang lebih substantif, award atau apa pun namanya itu menjadi tidak relevan dengan kondisi riil," ungkap Chay Asdak.