Friday, December 31, 2004

Krisis Air Bersih Terus Melanda Palembang (Clean Water crisis continues to strike Palembang

Source: Kompas

Palembang, Kompas - Krisis air bersih hingga kini terus terjadi di Palembang, Sumatera Selatan, karena produksi air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Musi belum memenuhi kebutuhan masyarakat di kota itu. Krisis semakin parah gara-gara banyak pipa tua yang bocor hingga banyak air yang terbuang.

Sejumlah pelanggan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Musi di Palembang, Senin (27/12), mengeluhkan kesulitan air bersih itu. Mereka mempertanyakan kenapa krisis yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu tidak dapat diatasi sampai sekarang.

English Translation

Palembang, Kompas - the clean water Crisis up to now continues to happen in Palembang, South Sumatra, because the clean production of water from the Musi Company of the Area of the Water Drinking Water did not yet fill the requirement for the community in the city. The crisis increasingly serious gara-gara many old pipes that leaked as far as much water that was thrown away.

Several clean water customers from the Company of the Area of the Drinking Water (PDAM) Musi Water in Palembang, Monday (27/12), complained about the clean water difficulty. They questioned why the crisis that has taken place for years that could not be overcome up until now.

Direktur Utama PDAM Tirta Musi Palembang Syaiful mengatakan, perusahaan itu memiliki enam instalasi pengolah air bersih dengan total produksi 2.870 liter per detik. Hanya saja pipa saluran air sepanjang sekitar 120 kilometer mulai rusak dan bocor. Pipa yang dipasang sejak tahun 1928 itu sudah banyak menerima beban karena umumnya tertanam di bawah jalan raya.

Akibat kebocoran, banyak air bersih yang terbuang sia-sia. Diperkirakan jumlah air yang terbuang sekitar 991.872 meter kubik per bulan dari total produksi Tirta Musi sebanyak 7,4 juta meter kubik per bulan. Kebocoran sulit dideteksi dan diperbaiki karena banyak yang sudah berada di tengah jalan protokol yang telah diperluas.

Cik Mit, Kepala Bagian Distribusi PDAM Tirta Musi, mengatakan, pihaknya juga menghadapi masalah penyaluran air secara ilegal dan pencurian. "Air bersih yang hilang dan tidak masuk rekening mencapai 40 persen dari total produksi. Akibatnya, kami baru bisa melayani sekitar 60 persen dari total penduduk Palembang 1,5 juta jiwa," katanya.

Kebocoran dan pencurian air semakin memperparah krisis air bersih yang dialami masyarakat Palembang. Untuk mengatasinya, PDAM Tirta Musi telah membangun jaringan transmisi dan distribusi air baru. Saat ini Palembang membutuhkan jaringan baru sepanjang 744 kilometer untuk menambah jaringan yang ada sepanjang 880 kilometer.


Untuk mendapatkan air bersih, masyarakat kota Palembang terpaksa bergilir dalam jam-jam tertentu. Hingga kini baru Perumahan Bukit Sejahtera, Poligon, Kecamatan Ilir Barat I, yang telah menikmati aliran air PDAM selama 24 jam penuh.

"Air PDAM itu tidak jelas kapan mengalirnya, dan kami hanya bisa menunggu. Airnya juga sering keruh. Terpaksa kami sering beli air bersih seharga Rp 5.000 per 20 liter, atau menampung air hujan," kata Subardin, warga Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Kemuning.

Anggiat M Tiopan, warga Lemabang, Kecamatan Ilir Timur II, mengaku mendapat jatah air bersih dari PDAM mulai sekitar pukul 18.00 sampai dengan pukul 02.00.

"Beberapa hari ini aliran airnya kadang sehari mati, sehari hidup. Padahal, kami membayar air setiap bulan," katanya.

Kepala Humas PDAM Tirta Musi Palembang Yos Ruswadi Ilyas sangat memaklumi keresahan masyarakat. "Tetapi, inilah kemampuan yang ada saat ini. Untuk pengembangan mesin pompa, bak, dan pengolah air, dibutuhkan investasi besar," kata Yos.

Tingkatkan kinerja

Menurut Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel Aidil Fitri, krisis air bersih di Palembang berpangkal pada ketidakmampuan PDAM Tirta Musi dan Pemerintah Kota Palembang untuk melayani kebutuhan air bersih bagi warganya.

"Selama ini kita hanya mendengar PDAM mengeluh rugi terus. Tetapi, berapa jumlah pendapatan dari pelanggan dan kerugiannya tidak pernah diumumkan secara transparan. PDAM itu merupakan BUMD (badan usaha milik daerah) yang memonopoli usaha untuk memenuhi hajat hidup orang banyak," katanya.

Read more!(Selengkapnya)

Thursday, December 30, 2004

Tangerang to up water rates

Source: Jakarta Post

TANGERANG: City-owned water operator Tirta Kerta Raharja plans to increase water rates up to 17 percent for households and 30 percent for industries next February.

The company spokesman Anda Suhanda said the planned hike had been delayed since July.

"We have gradually increased the price since December 2003 ... It has nothing to do with the planned fuel price hike next year," he was quoted as saying by news portal on Wednesday.

The company revealed that the price hike would not effect hospitals and houses of worships. -- JP

Read more!(Selengkapnya)

Wednesday, December 29, 2004

Millions of Asian survivors battle for healthcare, clean water

Source: Big News

With deadly diseases now stalking the survivors of the massive South Asian tsunami that has already claimed an estimated 67,000 lives, the United Nations Tuesday turned to the urgent task of providing clean drinking water and health care for millions of people and the longer-term need for an early warning system.

The destruction of water and sanitation systems 'is causing a tremendous humanitarian disaster,' UN Emergency Relief Coordinator Jan Egeland told reporters after meeting with ambassadors of the affected countries to coordinate relief operations for the tsunami, which struck nearly a dozen Indian Ocean nations on Sunday.

The UN World Health Organization (WHO) warned that deadly diarrhoeal diseases and acute respiratory infections can be expected from contaminated water sources, and the ambassadors cited food, medicines, water purification equipment, mosquito nets and even body bags among their priority needs.

“The immediate terror associated with the disaster in southern Asia may be dwarfed by the longer term suffering of affected communities where the risk of communicable diseases becomes a real threat,” WHO’s David Nabarro told a press briefing in Geneva, where UN officials scrambled to mobilize contributions to the relief effort at a hastily called meeting at the UN European headquarters.

'We will need very substantive pledges,' Mr. Egeland said of the flash appeal that the UN will launch in the coming days, which may well be the largest ever made. 'I think this is unprecedented because very many countries are involved.'

Tens of millions of dollars have already been pledged, much of it to non-governmental organizations (NGOs), and he praised international assistance as immediate and generous, noting that 'there are dozens of airplanes air bound as we speak.'

UN Disaster Assessment and Coordination (UNDAC) teams, including officials from WHO and other agencies, have already rushed to many of the stricken countries, while others are on standby for deployment where needed. WHO is mobilizing funds for local costs and emergency supplies, emergency health kits and other necessities identified during initial assessments.

In an effort to mitigate the effects of similar disasters in the future, UN officials are calling for the installation of an early warning system such as already exists in the Pacific region which is considered more vulnerable to undersea earthquakes like the one which struck on Sunday off of Indonesia's Sumatra island, triggering a string of devastation.

'The United Nations system itself has to come together to address this problem of prevention and mitigation in cases of natural disaster,' Yvette Stevens, Director of the UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) told a news briefing in Geneva, noting that early warning issues would be discussed at next month's World Conference on Disaster Reduction in Kobe, Japan.

'Had a South Asian regional alert system been in place to warn of the impending tidal wave, many thousands of lives could have been saved,' Secretary-General Kofi Annan's Representative on the human rights of internally displaced persons, Walter Kälin, said.

Sálvano Briceño, Director of the International Strategy for Disaster Reduction (IDSR), a UN initiative for increasing knowledge-sharing in areas of risk management, also stressed the need for an Indian Ocean early warning system like that existing in the Pacific basin. 'A simple and timely message can go a long way and can mean the difference between life and death, not to mention economic survival or ruin,' he said.

The International Coordination Group for the Tsunami Warning System in the Pacific (ICG/ITSU), a subsidiary body of the UN Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) formed in 1968 and currently with 26 member states, seeks to assure that tsunami watches, warning and advisory bulletins are disseminated throughout the Pacific.

Meanwhile other UN agencies continued to pour in more traditional disaster relief. The UN Development Programme (UNDP) released emergency funds is deploying its most experienced technical staff from the Bureau for Crisis Prevention and Recovery (BCPR) as the world body prepared to launch a flash appeal.

The UN Children's Fund (UNICEF) is rushing relief assistance to the countries hardest hit and working to meet the urgent needs of hundreds of thousands of people who now need shelter, water, medical supplies and other aid.

With millions of people affected in India, Indonesia, Sri Lanka, Thailand, the Maldives and other countries, UN agencies have been working with governments to assess pressing priorities and provide immediate assistance. Sri Lanka and Indonesia are likely to have the greatest need for humanitarian support, UNICEF said.

The UN Population Fund (UNFPA) committed up to $1 million and additional staff for rapid health assessments, hygiene needs and health supplies, including water purification tablets. The agency urged that the special needs of women and girls be factored into all short- and medium-term relief planning,

'While the magnitude of this disaster may be unprecedented, we already know from our experience in previous crises - such as last year's earthquake in Bam, Iran, and the hurricanes that struck the Caribbean earlier this year - that women and girls will be hit especially hard,' UNFPA Executive Director Thoraya Obaid said.

Among the affected are tens of thousands of pregnant and nursing women, who are especially susceptible to waterborne diseases and may require supplementary feeding, prenatal care and childbirth assistance.

Read more!(Selengkapnya)

Thursday, December 23, 2004

RPP Air Minum Rampung Pertengahan Januari 2005 (RPP Drinking Water Regulations by mid January 2005)

Source: Investor Daily Online

JAKARTA, Investor Daily Online

Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum diperkirakan rampung pembahasannya pada pertengahan Januari 2005.

RPP tersebut diharapkan memperkuat aturan pengelolaan sumber daya air (SDA) yang tertuang dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

"Targetnya, pada pertengahan Januari RPP ini sudah masuk ke Sekretariat Negara," kata Tamin MZ Amin, kepala Sub-Direktorat Air Bersih dan Prasarana Lingkungan, ketika dihubungi Investor Daily, Senin (20/12).

English Translation

Jakarta, the Investor Daily Online

The Government Regulation plan was about the Development of the System of the provisions of the Drinking Water estimated finished his discussions to mid January 2005.

This RPP it was hoped reinforced the rule of the management of water resources (SDA) that was poured in No. regulations 7 2004 about Water resources.

"His target, to mid January this RPP will enter the Secretariat," Tamin MZ Amin words, the Clean head and the Infrastructure of the Environment of the Water Subdirectorate of the "Country", when being contacted by the Daily Investor, on Monday (20/12).

Menurut Tamin, saat ini tim kecil perumus RPP masih terus melakukan pembahasan dengan berbagai pihak terkait, termasuk melakukan konsultasi publik untuk mendapatkan masukan-masukan dari pihak non pemerintah, seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat pada umumnya.

Pihaknya juga telah menjadwalkan pembahasan dengan departemen terkait, berkaitan perumusan RPP tersebut. "Besok (hari ini, red), akan dilakukan pembahasan inter dept," ujar dia.

Sebelumnya, Dirjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan Departemen Pekerjaan Umum (PU) Patana Rantetoding mengatakan bahwa penyelesaian RPP tentang Pengembangan Sumber Penyediaan Air Minum telah dimasukkan dalam program yang harus diselesaikan dalam 100 hari pemerintahan SBY.

Sementara itu, berkaitan judicial review yang dilakukan terhadap UU No 7 Tahun 2004, Tamin mengharapkan RPP tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum akan lebih menjelaskan aturan pengelolaan SDA yang tertuang dalam UU SDA tersebut. Menurutnya, RPP akan menguatkan inti UU SDA bahwa tidak ada maksud melakukan privatisasi air.

"Sekarang ini kan banyak interprestasi terhadap UU SDA. Diharapkan RPP ini bisa lebih menjelaskan," kata Tamin.

Dalam konsultasi publik RPP tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum sebelumnya, pemerintah berencana mendorong keterlibatan masyarakat lebih besar dalam pengelolaan air minum. Usulan dalam RPP, adalah pembentukan Dewan Musyawarah Air Minum (DMAM) yang anggotanya mayoritas wakil dari masyarakat. Dewan Musyawarah itu selain berfungsi sebagai pengawas juga berfungsi untuk mengambil kebijakan seperti menentukan hal-hal krusial seperti penetapan tarif air minum, pemilihan direksi BUMN/BUMD penyelenggara, sampai persetujuan kerja sama dengan pihak swasta.

Di samping PP tentang penyediaan air minum, rencananya RPP tentang sanitasi air akan segera dirancang tersendiri

Read more!(Selengkapnya)

Wednesday, December 22, 2004

Bandung Akan Jadi Kota Genangan Air (Bandung will be the City of the Pool of Water)

Source: Pikiran Rakyat

Akibat Permukaan Tanah Terus Menurun

Kota Bandung dipastikan bakal menjadi daerah genangan air yang sangat luas akibat permukaan tanahnya terus merosot. Penurunan tersebut disebabkan aktivitas tektonik (gerakan di bawah permukaan) yang sangat aktif di Kawasan Bandung Selatan, serta kopongnya tanah karena penyedotan air tanah yang berlebihan.

Hal itu diungkapkan Dosen Senior Teknik Geologi Unpad yang juga pakar hidrogeologi dan hidrolika air tanah, Dr. N. Prawoto, saat seminar "Cekungan Bandung : Geodinamika, Permasalahan, dan Pengembangannya" di Auditorim Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Geologi, Jln. Diponegoro, Selasa (21/12).

English Translation

As a result of the Surface of the Land continued Menurun

Bandung, (PR).-
Bandung City will it was confirmed become the area of the pool of water that very wide as a result of his surface of the land continued to decline. This decline was caused by the activity of tectonics (the movement under the surface) that really was active in the Bandung Region South, as well as hollow him the land because of suction of the excessive ground water.

That was revealed by the Senior Lecturer of the Unpad geological Technique that also the expert and ground water hydraulics in hydrogeology, Dr. N. Prawoto, during the "Bandung Basin" seminar": Geodinamika, the Problem, and his Development" in Auditorim the Centre of Research And Development (Puslitbang) Geology, the Road. Diponegoro, Tuesday (21/12).

Dijelaskan Prawoto, selain itu kerusakan hutan juga semakin memperbesar kemungkinan banjir. Semua kondisi itu mengakibatkan Kota Bandung dikhawatirkan bakal mengalami banjir dahsyat.

Prawoto mengatakan, gerakan tektonik di Kawasan Bandung Selatan jauh lebih aktif dibandingkan dengan di Bandung Utara. Gerakan itu mengakibatkan permukaan tanah di selatan naik sedangkan di utara turun. Kota Bandung yang berada di cekungan air Bandung (Cekungan Bandung-red.) sebelah utara tentu ikut turun juga, sehingga menyebabkan meluasnya genangan air di Kota Bandung.

Lebih lanjut Prawoto, menyatakan, perluasan genangan itu semakin diperparah pula dengan penyedotan air tanah yang sangat berlebihan oleh industri. Penurunan air tanah di daerah industri seperti Leuwigajah Kota Cimahi saja sudah mencapai 70 m dari kondisi awal. Keadaan seperti itu mengakibatkan tanah menjadi kopong, sehingga permukaan tanah pun menjadi turun atau bahkan amblas. "Maka, ujung-ujungnya daerah itu bakal menjadi genangan air juga," katanya.

Berdasarkan itu, Prawoto menyarankan, industri di cekungan air Bandung mutlak harus direlokasi ke luar cekungan. "Kalau masih di dalam cekungan air Bandung, sama saja dengan bohong. Saya kira di sekitar Cirata bisa dijadikan daerah relokasi. Namun, tentu harus ramah lingkungan," katanya.

Kordinator Program Penelitian dan Pengembangan Bencana Puslitbang Geologi Dr. Ir. Herman Moechtar, mengatakan, Cekungan Bandung di kelilingi oleh pengunungan aktif seperti Gunung Tangkubanparahu di utara dan Malabar di selatan. Gerakan tektonik di utara saat ini bisa diabaikan karena tidak terlalu aktif. Namun, sebaliknya, di selatan sangat aktif.

Sering gempa

Diungkapkan Herman, aktifnya gerakan tektonik di selatan bisa dibuktikan dengan terjadinya gempa setiap hari dalam skala kecil seperti di Kertasari, Ciwidey, dan sebagainya. Namun, karena kecil dan di sana jarang penduduk, gempa itu tidak begitu terasa. Walau demikian, daerah selatan jangan coba-coba dikembangkan menjadi pemukiman padat karena sangat berbahaya.

Diumpamakan Herman, bila sisi sebuah cekungan atau mangkuk naik, maka sisi di seberangnya bakal turun. "Begitulah yang terjadi di Cekungan Bandung. Ketika sisi selatan bergerak naik, sisi utara termasuk Kota Bandung menjadi turun. Bila terjadi peningkatan volume air, maka daerah yang turun seperti Kota Bandung itu bakal menjadi daerah genangan air yang sangat parah," katanya.

Dijelaskan Herman, keadaan Kota Bandung itu sama seperti Jakarta yang permukaan tanahnya terus turun. "Jadi, tidak benar banjir di Jakarta dikatakan akibat banjir kiriman dari Bogor. Banjir itu karena permukaan tanah Jakarta terus turun sehingga menjadi daerah genangan air yang sangat luas," kata Herman.

Oleh karenanya, kata Herman, jika volume air meningkat, banjir luas seperti di Jakarta pada 2001 lalu bukan tidak mungkin bakal terjadi juga di Kota Bandung.

Read more!(Selengkapnya)

Bath Time

Source: Jakarta Post

BATH TIME: A mother dips her son into the Ciliwung River in Bukit Duri, South Jakarta. Dwellers living along the polluted river use it for washing dishes and clothes and disposing of their sewage. During the rainy season it regularly floods. (JP/P.J. Leo)

Read more!(Selengkapnya)

Tuesday, December 21, 2004

Air tidak ”Ngocor”, Tetap Ditagih PDAM (Limited Water Supply - PDAM Kab. Bandung)

Source: Pikiran Rakyat

Ratusan warga Cibeber Kec. Cimahi Selatan Kota Cimahi memprotes tidak mengalirnya aliran air PDAM Tirta Raharja Kab. Bandung selama tiga bulan terakhir. Namun, setiap bulannya, mereka tetap dibebani tagihan rekening air. Jika terlambat membayarnya, mereka akan dikenakan denda. Keluhan itu pun Senin (20/12) diadukan ke jajaran Komisi B DPRD Kota Cimahi ketika menjaring aspirasi ke kawasan Cibeber.

Keterangan yang dihimpun "PR" di lapangan, terhitung September - November 2004, warga RW 4, RW 5, RW 6, dan RW 10 tidak pernah mendapat aliran air dari PDAM Tirtaraharja Kab. Bandung. Terlebih lagi selama bulan itu masih musim kemarau. Sementara itu, sumur-sumur gali ataupun pompa mengering sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka terpaksa mencari ke pancuran atau membeli dari pedagang keliling. Sebagian lainnya membeli air kemasan untuk kebutuhan minum.

English Translation

Hundreds Of Cibeber Kec citizens. Cimahi South the Cimahi City protested not the flow of the water current PDAM Raharja Kab Water.Bandung during the last three months. However, each month, they continued to be loaded the bill of the account of water. If late paid him, they will be put on the fine.The complaint then Monday (20/12) was complained about to the Commission rank of B DPRD of the Cimahi City when encompassing the aspirations to the Cibeber region.

Information that was assembled by "PR" in the field, was counted in September - November 2004, the RW citizen 4, RW 5, RW 6, and RW 10 had not received the water current from PDAM Tirtaraharja Kab.Bandung. At first again for the month still the dry season. In the meantime, wells delved or the pump dried up so as to fill their everyday requirement was forced to search to pancuran or bought from the travelling salesman. Another part bought package water for the requirement drank.

Menyikapi hal itu, Ketua Komisi B DPRD Cimahi, Drs. Ade Irawan dan 2 anggotanya Ir. Syamsurijal, M.M. dan Drs. Winarsa Gunawan kemarin turun ke lapangan guna menyerap aspirasi masyarakat.

Dalam kesempatan itu, perwakilan warga RW 5 dan jajaran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Cibeber mengaku bahwa kondisi tersebut sudah berjalan cukup lama. Namun, yang cukup parah terjadi selama tiga bulan sejak September - November 2004. Selama itu pula, mereka tetap ditagih dan harus membayar rekening Rp 20.000,00/bulan. Jika terlambat, mereka didenda sebesar Rp 7.000,00. Padahal, air sama sekali tidak ngocor.

Hal itu pun dibenarkan Ketua RW 5, H. Winarya. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Akibatnya, pada Lebaran lalu, sebagian warga terpaksa membuat sumur dengan dana yang tidak sedikit.

Menyikapi hal itu, Ketua Komisi B, Drs. H. Ade Irawan, Ir. Syamsurijal, M.M., dan Drs. Winarsa Gunawan sangat menyesalkan hal tersebut. Mengingat, selama tiga bulan, warga telah menunaikan kewajibannya, tapi hak mereka tidak pernah dipenuhi PDAM. "Jadi, selama ini, PDAM terus disubsidi warga, tapi tidak pernah ada timbal baliknya," ujar Syamsurijal.

Direktur Umum PDAM Tirtaraharja Kab. Bandung, Ir. Triani mengaku belum menerima keluhan tersebut, khususnya dari Cabang Cimahi. Jika ada keluhan semacam itu, PDAM akan segera mengantisipasinya dengan mengirimkan tangki ke titik-titik yang tidak teraliri air PDAM.

Read more!(Selengkapnya)

Produksi Air Bersih di Kota Bandung (Clean water production for Kotamadya Bandung)

Source: Pikiran Rakyat

Produksi Air Bersih di Kota Bandung 2.420 liter/detik
Baru 1,4 Juta Penduduk Terlayani

Kapasitas produksi air bersih untuk Kota Bandung yang berasal dari air permukaan, mata air, maupun air tanah, kini hanya mampu melayani kebutuhan sekira 1,4 juta atau 50 persen dari 2.795.649 penduduk Kota Bandung. Kapasitas produksi air bersih dari sejumlah sumber air itu hanya 2.420 liter/detik.

Kondisi tersebut ditambah jumlah penduduk yang semakin padat serta banyaknya penduduk komuter yang tidak tercatat secara administratif. Praktis, kondisi itu menambah tidak seimbangnya ketersediaan air bersih dengan kebutuhan penduduk yang harus dilayani.

English Translation

The Clean production of Water in the Bandung City 2,420 litre/detik
Just 1.4 Million Terlayani inhabitants

Bandung, (PR).-
Capacity of the production of clean water for the Bandung City that comes from the surface water, the spring, and the ground water, currently could only serve the requirement approximately 1,4 million or 50 percent from 2,795,649 Bandung inhabitants of the City. The clean capacity of the production of water from several sources of water only 2,420 litre/the second.

This condition was increased by the number of inhabitants that increasingly dense as well as the number of inhabitants of the commuter who was not recorded administratively. Practically, the condition increased not balanced him the clean availability of water with the requirement for the inhabitants that must be served.

"Solusinya, kita harus melestarikan lingkungan guna memenuhi ketersediaan sumber daya air," ujar Dirut PDAM Kota Bandung, Maman Budiman, saat syukuran HUT ke-30 PDAM Kota Bandung di GOR PDAM, Senin (20/12). Hadir dalam acara tersebut, Wali Kota Dada Rosada, Ketua DPRD Kota Bandung Husni Muttaqien, serta para pejabat publik lainnya.

Hingga saat ini, lanjut dia, PDAM Kota Bandung masih mengandalkan air permukaan yang berasal dari Kabupaten Bandung, di antaranya air Sungai Cisangkuy dan Cikapundung, untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk Kota Bandung. Persoalannya, kondisi kedua sungai itu belakangan mengalami penurunan, baik dari segi kualitas maupun ketersediaan sumber air baku.

Hal ini disebabkan masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap kelestarian lingkungan, khususnya dalam menjaga keberlangsungan sumber daya air. "Di masyarakat, kesadaran menjaga sumber daya air belum menjadi prioritas," tambah Budiman.

PDAM Kota Bandung sendiri, tahun 2004 melakukan pekerjaan optimalisasi sumber air baku dari Sungai Cisangkuy serta penambahan debit air dari mata air Citalaga dan Cisurupan. Kedua sumber mata air ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi pelanggan di wilayah Bandung Utara dan Bandung Timur.

Ketua DPRD Husni Muttaqien, menilai PDAM belum memberi pelayanan maksimal kepada para pelanggannya. PDAM mestinya lebih mengutamakan pelayanan sebelum mengejar profit, mengingat PDAM juga mengemban fungsi sosial.

"Jangan berpikir memberi kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD), sebelum pelayanannya memuaskan pelanggan. Di antaranya, PDAM harus lebih dulu menambal kebocoran-kebocoran yang ada," pinta Husni.

Read more!(Selengkapnya)

Monday, December 20, 2004

UU Sumber Daya Air tak Mengarah Privatisasi Air? (UU Water resources did not direct the privatisation of water?)

Source: Investor Daily

JAKARTA, Investor Daily Online

Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Departemen Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono menegaskan, sumber daya air tetap dikuasai oleh negara dan negara menjamin alokasi air untuk masyarakat pengguna air sehari-hari serta untuk irigasi. Tak perlu ada kekuatiran UU No. 7 Tahun 2004 mengarah pada "privatisasi" air.

"Tidak ada roh-nya UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air itu ditujukan untuk privatisasi air," ujar Basuki kepada Investor Daily, Rabu (15/12).

English Translation

Jakarta, the Investor Daily Online

The director general of Water resources (SDA) the Department of the Public Works of Basuki Hadimuljono stressed, water resources continued to be controlled by the country and the country guaranteed the allocation of water for the everyday community of the user of water as well as for the irrigation.

No need to have the UU No. concern 7 2004 headed in the "privatisation of" water".
"There was none of his spirit of UU No. 7 years 2004 was about the Water resources aimed for the privatisation of water," said Basuki at the Daily Investor, on Wednesday (15/12).

Memang, menurut dia, dalam UU SDA mengatur lebih jelas mengenai kesempatan bagi swasta untuk mengusahakan air. Namun, bukan berarti UU tersebut memberikan kesempatan kepemilikan (privatisasi) air oleh swasta. Sumber daya air tetap dikuasai dan dimiliki oleh negara, dalam hal ini pemerintah sebagai regulator.

"Tetap ada batasan-batasan yang diberikan kepada swasta untuk pengusahaan air. Dan, selain itu, alokasi untuk masyarakat yang menggunakan air sehari-hari dan irigasi dijamin oleh negara," tambahnya.

Basuki menjelaskan bahwa UU SDA yang ditetapkan Maret 2004 lalu disusun atas lima aspek utama antara lain aspek konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, pemberdayaan masyarakat, dan, keterbukaan data sumber daya air.

Dalam aspek pendayagunaan air, terdapat aspek pengusahaan air, dimana dalam pengusahaan air terdapat hak guna air yang terbagi atas hak pakai air dan hak guna usaha air.

"Untuk individu, masyarakat yang menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari dan irigasi dijamin alokasinya melalui hak pakai air. Jadi kalau ada yang mengusahakan air, akan aman alokasi bagi mereka dengan adanya hak pakai air ini," papar Basuki.

Sementara itu, peluang swasta untuk pengusahaan air diakomodir melalui hak guna usaha air. Hak guna usaha air merupakan hak yang diberikan bagi individu, masyarakat atau swasta yang akan memanfaatkan air untuk usaha.

Di samping dijamin oleh hak pakai air, alokasi air untuk masyarakat juga terlindungi oleh batasan-batasan hak guna usaha air. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi bagi pengusaha swasta, individu atau msyarakat untuk mendapatkan hak guna usaha air.

Antara lain, perlu ada kesepakatan dari masyarakat setempat untuk pengusahaan air, melalui proses konsultasi publik. Perlu juga izin dari pemerintah daerah setempat. Selain itu, wajib bagi pengusaha air melakukan konservasi sumber daya air. Syarat lainnya yang tak kalah penting adalah tidak diperkenankannya melakukan transfer air dari satu wilayah sungai ke wilayah sungai lainnya.

"Mereka juga hanya boleh mengusahakan SDA pada satu titik wilayah saja, tidak boleh lebih," kata Basuki.

Melalui penjelasan itu, Basuki mengharapkan tidak ada lagi kekuatiran dari masyarakat akan adanya kepenguasaan air oleh swasta yang akan membahayakan jaminan alokasi air untuk masyarakat. Menurut dia, dengan adanya UU No. 7 Tahun 2004, pengelolaan sumber daya air akan lebih tertata dan teratur.

"Saya tidak menyalahkan bila ada presepsi yang berbeda dalam menginterprestasikan UU ini. UU ini kan milik masyarakat, dan bisa diinterprestasikan apa saja termasuk kekuatiran privatisasi air melalui UU ini," kata dia.

"Semua orang berhak menginteprestasikan UU, karena UU ini kan bagi semua orang. Dan, untuk itu perlu dilakukan terus sosialisasi," lanjutnya.

Berkaitan penerbitan UU No. 7 Tahun 2004, Departemen Pekerjaan Umum akan melakukan sosialisasi kepada publik yang akan diselenggarakan hari ini (16/12).

Sebelumnya diberitakan, terbitnya UU No. 7 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air mendapat reaksi keras dari beberapa organisasi masyarakat dan lingkungan hidup. Mereka menilai mengundang komersialisasi SDA yang selanjutnya bisa membahayakan penyediaan air bagi masyarakat. UU tersebut dinilai mengarah lebih lanjut oleh penguasaan air oleh swasta (privatisasi air).

Yayasan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan beberapa organisasi lainnya serta juga lebih dari 800 individu telah mengajukan permohonan judicial review/pengujian UU No. 7/2004 terhadap UUD 1945.

Khusus permintaan dari Walhi, yang mewakili sekitar 16 organisasi, diharapkan MA mencabut UU No. 7 Tahun 2004 dan menyiapkan UU baru yang intinya terutama dalam hal pengusahaan air memberikan batasan dalam bidang produksi. Walhi menilai UU no. 7 Tahun 2004 tidak mengakomodasi mengenai hal tersebut. Sementara beberapa organisasi meminta agar pasal-pasal dalam UU No. 7 Tahun 2004 yang mengatur mengenai kesempatan pengusahaan air oleh swasta dihapuskan.

Judicial Review UU No. 7 Tahun 2004 di Mahkamah Konstitusi sedang berjalan. Selasa (14/12) sidang kedua dilakukan, dimana pemohon (WALHI) mengajukan tiga saksi ahli dari institusi pendidikan yang menyampaikan hasil studi atas dampak pengusahaan asing yang diberikan swasta, kepada rakyat.

Pada sidang-sidang berikutnya, Mahkamah Konstitusi akan mendengarkan pula saksi-saksi ahli dari pihak lainnya termasuk dari pemerintah.

Read more!(Selengkapnya)

Dasar hukum PDAM akan diubah (PDAM foundation law will be changed)

Source: Bisnis Indonesia

JAKARTA (Bisnis): Pemerintah pusat segera menukar dasar aturan hukum PDAM dari peraturan daerah menjadi peraturan pemerintah guna lebih mensolidkan pengembangan PDAM itu ke depan.

Kepala Badan Pembinaan Konstruksi dan Investasi (Bapekin) Wibisono Setio Wibowo mengatakan penukaran itu diperlukan karena selama ini dirasakan bahwa penggunaan perda menjadi penghambat untuk konsolidasi pengembangan dan pembinaan perusahaan daerah air minum (PDAM) daerah yang berjumlah 300 perusahaan di Indonesia.

"Banyak keluhan dari stakeholders terhadap sistem pengembangan PDAM, di antaranya ya...itu mengusulkan menukar dasar aturannya dari perda ke PP. dan juga upaya penyehatannya," katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

English Translation

Jakarta (the Business): the Government of the centre immediately exchanged the PDAM foundation of the legal rule of the regional regulation to the government regulation for more mensolidkan the PDAM development to the front.

The head and Investment of the Body of the Management of the Construction (Bapekin) Wibisono Setio Wibowo said the changing was needed because uptil now was felt that the Regional Regulations use became the obstacle for the consolidation and the management of the company of the area of the drinking water of the development (PDAM) the numbering area 300 companies in Indonesia.

"Many complaints from stakeholders towards the PDAM development system, among them yes."..That proposed exchanged his foundation of the rule from Regional Regulations to PP. but also his sanitation efforts, he said to the Business recently.

Berdasarkan pantuan Bisnis, Akaindo (Asosiasi Kontraktor Air Indonesia) adalah salah satu pihak yang meminta perubahan itu karena menjadi faktor kendala dalam menjalin kemitraan dengan PDAM.

Selama ini, katanya, PDAM berjalan berdasarkan pengaturan perda di masing-masing kabupaten atau kota dimana PDAM beroperasi.

Hal itu, katanya, menjadikan sistem pengembangan dan pengaturan terhadap PDAM tidak seragam yang kemudian menjadikan sulitnya melakukan konsolidasi pembinaan.

Sementara itu, lanjutnya, dari segi operasional, PDAM tetap akan berjalan secara terpisah antara satu daerah dengan daerah yang lain karena karakter perusahaan air minum berbeda dengan perusahaan lain seperti PLN.

Menurut dia, PDAM justru menjadi tidak efisien dan konstruktif jika diintegrasikan secara nasionmal seperti PT Telkom atau PT PLN.

Sementara itu, Dirjen Sumber Daya Air Basuki Hadimuljono menegaskan keberadaan UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air bukan untuk mengkomersialkan air bagi kepentingan industri.

Namun, lanjutnya, untuk menjaga keseimbangan dalam penataan dan pengelolaan sumber daya air nasional.

Read more!(Selengkapnya)

Hak Guna Usaha Air ke Privatisasi (Water rights and Privatisation)

Source: Kompas

Jakarta, Kompas - Hak guna usaha yang diatur dalam pasal Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air mengarah kepada privatisasi air. Hal itu dikhawatirkan akan memperkecil akses pemanfaatan air bagi rakyat kebanyakan, terutama untuk irigasi pertanian.

Demikian terungkap dalam keterangan saksi ahli Gatot Irianto PhD dalam sidang perkara pengujian UU Sumber Daya Air terhadap UUD 1945 di Mahkamah Konstitusi, Selasa (14/12). Panel hakim dipimpin hakim konstitusi Prof Dr H Moh Laica Marzuki.

English Translation

Jakarta, Kompas - the Right for efforts that were arranged in the article of number regulations 7 2004 about Water resources headed to the privatisation of water. That will it was worried about reduce access of the utilisation of water for the general population, especially for the agricultural irrigation.

Was like this was expressed in the expert witness's information of Gatot Irianto PhD in the session of the case of the testing UU Water resources against UUD 1945 in the Constitution Court, Tuesday (14/12). The judge's panel was led by the constitution judge of Prof Dr H Moh Laica Marzuki.

Uji materi (judicial review) terhadap UU Sumber Daya Air diajukan ke Mahkamah Konstitusi oleh sedikitnya 16 organisasi nonpemerintah (ornop). Mereka menilai UU tersebut bertentangan dengan Undang- Undang Dasar 1945.

Hak guna usaha yang diatur dalam Pasal 9 UU Sumber Daya Air, menurut Gatot, membuka peluang bagi pihak swasta untuk menguasai sumber air yang seharusnya dikuasai oleh negara untuk kepentingan hajat hidup orang banyak, seperti digariskan dalam Pasal 33 UUD 1945.

"Jelas akan terjadi komersialisasi. Akan tetapi, kontrol pemerintah terhadap sistem dan mekanisme dalam alokasi dan distribusi air inilah yang menjadi biang keladi kekhawatiran akan eksploitasi air yang berdampak terhadap sektor pertanian," tutur Gatot yang juga Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.

Ia menambahkan, petani tidak mungkin dapat berkompetisi dengan perusahaan air yang memiliki modal besar dan menguasai teknologi. "Industri air minum sudah powerful, akses teknologinya bagus, modalnya kuat, dan punya akses ke birokrasi. Itu tidak mungkin proporsional berhadapan dengan petani yang relatif miskin, tertinggal, dan pendidikannya terbatas," katanya.

Gatot mengungkapkan hasil studinya pada beberapa daerah tangkapan air (catchment area) yang diambil airnya oleh perusahaan air minum, yang menunjukkan terjadinya penurunan intensitas tanam pertanian akibat kekurangan air irigasi.

Pada waktu airnya belum dieksploitasi oleh PDAM, petani bisa menanam lima atau enam kali dalam dua tahun. Akan tetapi ketika airnya diambil, pasokannya untuk irigasi makin menyusut, dan akibatnya petani hanya bisa menanam tiga atau empat kali dalam dua tahun.

Penguasaan air

P Raja Siregar dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengemukakan bahwa UU No 7/2004 itu memberi ruang yang luas bagi swasta untuk menguasai sumber air (air tanah, segala bentuk air permukaan, dan bahkan sebagian badan sungai).

"Instrumen hak guna usaha dalam UU itu menjadi dasar alokasi dan penguasaan sumber-sumber air kepada swasta-individu dan badan usaha. Dapat dibayangkan bagaimana hak guna usaha air bagaikan pengaplingan sumber air oleh pemodal, layaknya hak pengusahaan hutan di sektor kehutanan," kata Siregar yang menjadi salah seorang kuasa pemohon judicial review UU Sumber Daya Air.

Siregar menjelaskan, pengaturan dengan instrumen hak guna, mirip dengan instrumen water right dari Water Management Policy dari Bank Dunia. Instrumen yang sama juga telah didesakkan oleh Bank Dunia kepada Pemerintah Sri Lanka dalam penyusunan pengelolaan air dan irigasi pertanian pada tahun 1996. "Instrumen hak guna ini menjadi dasar pengelolaan air dan menjiwai sebagian besar pasal-pasal dalam UU Sumber Daya Air ini," ujarnya.

Sementara itu, Amstrong Sembiring yang juga kuasa pemohon mengatakan bahwa konstitusi telah menggariskan secara tegas dan mencantumkan bahwa dasar demokrasi ekonomi Indonesia adalah kemakmuran bagi semua orang. Maka jelaslah, dengan menyerahkan penyediaan air kepada swasta atau pemilik modal perseorangan, apalagi pihak asing, tidak sesuai dengan amanat UUD 1945.

Read more!(Selengkapnya)

Kebutuhan investasi air minum hingga 2015 capai Rp20 triliun (Requirement for drinking water investment to 2015 - Rp20 trillion)

Source: Bisnis Indonesia

JAKARTA (Bisnis): Pemerintah menargetkan pada 2015 bisa meningkatkan kapasitas produksi air minum dari 95.500 liter per detik menjadi 120.000 liter per detik dengan kebutuhan investasi sekitar Rp20 triliun.
Kepala Badan Pembinaan Konstruksi dan Investasi (Bapekin) Wibisono Setio Wibowo mengatakan dalam masa lima tahun ke depan setidaknya kapasitas produksi air minum yang bisa ditambah sebanyak 10.000 liter per detik atau 40% dari target 2015.

"Pengembangan air bersih sangat terkait dengan peran PDAM. Untuk itu, kalau mau meningkatkannya, maka berarti kita juga berbicara tentang pembinaan PDAM ke depan," katanya kepada Bisnis di sela-sela Munas ke V Asosiasi Kontraktor Air Indonesia (Akaindo) di Jakarta kemarin.

English Translation

Jakarta (Bisnis): the Government aim at in 2015 could increase the capacity of the production of the drinking water from 95,500 litre per the second to 120,000 litre per the second with the requirement for investment around Rp20 trillion. The head and Investment of the Body of the Management of the Construction (Bapekin) Wibisono Setio Wibowo said in the period five years to the front at least the capacity of the production of the drinking water that could be increased totalling 10,000 litre per the second or 40% of the target 2015.

The "clean development of water very related with the role PDAM. for that, if wanting to increase him, then significant we also speaking about the PDAM management to the front," he said to the Business in National Conference gaps to V the Indonesian Association of the Water Contractor (Akaindo) in Jakarta yesterday.

Menurut dia, kemampuan PDAM (perusahaan daerah air minum) saat ini harus dibenahi secara besar-besaran karena rendahnya kualitas dan kemampuan yang dimiliki.

Dia mengatakan sebagian besar PDAM di Indonesia memiliki kinerja yang tidak sehat, sehingga sulit untuk diandalkan melakukan pengembangan kapasitas produksinya.

Tapi, tegasnya, sekalipun kondisi seperti itu, PDAM dituntut tetap mengupayakan peningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat karena masalah pelayanan adalah tujuan dari operasi PDAM.

Dia mengatakan jika target 120.000 liter per detik bisa dicapai pada 2015, berarti sistem pelayanan air bersih dan air minum nasional baru tercapai 50% dari tingkat populasi masyarakat yang membutuhkan pelayanan air bersih.

Artinya, separuh masyarakat masih akan berupaya sendiri untuk mendapatkan air bersih bagi kebutuhannya

Selain itu, Wibisono meminta Akaindo agar tidak hanya bergantung pada proyek-proyek pemerintah, tapi harus berusaha menciptakan peluang pekerjaan sendiri dengan cara mencari skema pembiayaan sendiri dalam pengembangan proyek air bersih.

Menurut dia, bisa saja kontraktor air melakukan kerja sama dengan pihak perbankan atau penyandang dana untuk mengarap suatu proyek dalam kerangka BOT (built, operation, and transfer).

Dalam hal ini, kontraktor meminta dukungan pembiayaan untuk menggarap proyeknya yang akan ditawarkan kepada pemerintah.

Read more!(Selengkapnya)

Saturday, December 18, 2004

Sungai Cipanyeran Meluap Ratusan Rumah Terendam (Flooding of Cipanyeran River, Tasikmalaya)

Source: Pikiran Rakyat

Genangi 60 ha Sawah dan 4 Jembatan Rusak

Akibat curah hujan cukup tinggi dari malam hingga dini hari Jumat (17/12), aliran Sungai Cipanyeran, meluap dan merendam ratusan rumah warga di tiga desa masing-masing Ciandum, Ciheras, dan Cipanas Kec. Cipatujah Kab. Tasikmalaya. Selain rumah warga, banjir juga menggenangi sekira 60 ha areal pesawahan dan merusak empat jembatan. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu, hanya satu rumah milik Usup warga Ciheras hanyut terseret air.

English Translation

Flood 60 ha the Paddy-field and 4 bridges Rusak

Tasikmalaya, (PR).-
Resulting from the rainfall quite high from the night to dawn Friday (17/12), the Cipanyeran River current, overflowed and soaked hundreds of the citizen's houses in three their respective Ciandum villages, Ciheras, and Cipanas Kec. Cipatujah Kab. Tasikmalaya. Apart from the citizen's house, the flood also flooded approximately 60 ha the area pesawahan and damaged four bridges. There were no fatalities in the disaster, only one Usup property house of the citizen of washed away Ciheras was dragged water.

Menurut informasi yang diperoleh dari petugas piket di Kecamatan Cipatujah menyebutkan air sungai mulai meluap Jumat dini hari sekira pukul 1.00 WIB. Kemudian secara berangsur merendam ratusan rumah warga dengan ketinggian air bervariasi, khusus rumah penduduk yang ada disekitar aliran sungai, rendaman air sekira 2 meter.

Ais, salah seorang warga setempat mengungkapkan musibah banjir datang tiba-tiba, tanpa diduga warga begitu besar seperti layaknya banjir bandang. Beruntung ketika banjir bandang itu terjadi, warga berhasil menyelamatkan diri dengan mengungsi ke lokasi aman di sekitar kompleks perkebunan.

Apabila dibanding banjir bandang yang terjadi pada pertengahan November lalu, banjir kali ini lebih besar. Ketika itu rumah warga yang terendam sekira 78 rumah, pada banjir kali rumah warga yang terendam bertambah luas mencapai ratusan unit, tersebar di tiga desa.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kecamatan Cipatujah, musibah banjir itu telah melanda beberapa kampung di tiga desa yaitu Ds. Ciandum jumlah rumah yang terencam sekira 159 rumah, Ds. Ciheras sekira 30 rumah, dan Ds. Cipanas 50 rumah.

Khusus di Desa Ciandum, musibah banjir itu melanda enam kampung meliputi Citanuwangsa dengan 24 unit rumah yang terendam, Batununggul 28 rumah, Kulur 22 rumah, Cisalam 20 rumah, Cigintung 23 rumah, dan Cikondang 42 rumah. Selain rumah warga, banjir bandang itu juga telah menggenangi areal lahan sawah seluas 60 ha dan menghanyutkan sejumlah ternak milik warga.

Malah jalur ke kampung itu terputus karena jembatan Batugeni sepanjang 30 meter hanyut terbawa arus. Selain jembatan itu Jembatan Batununggal pun rusak. "Akibat derasnya arus sungai, dua rumah panggung milik warga di Kampung Kulur rusak terseret arus air," papar Yono salah seorang petugas piket di Kecamatan Cipatujah, kemarin.

Kedua rumah itu, lanjutnya masing-masing berukuran 4x6 meter milik Eri (50) dan ukuran 5x8 meter milik Yoyo (48). Selain rusaknya dua rumah warga, empat kerbau dan beberapa jembatan rusak akibat diterjang aliran air sungai yang cukup deras. Kemudian luapan air sungai juga telah merendam sekira 25 ha sawah dan 40 buah kolam milik warga setempat.

Meluapnya air sungai diduga disebabkan tingginya intensitas curah hujan yang mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis malam. Dan air mulai meluap Jumat dini hari sekira pukul 1.00 WIB. Kemudian secara berangsur merendam ratusan rumah warga. Pada saat air mulai menggenangi rumah, sebagian warga langsung mengungsi menempati daerah aman.


Melihat genangan air masuk rumah terus semakin tinggi, para penghuni rumah berusaha menyelamatkan barang berharga milik mereka. Awalnya mereka berusaha tetap bertahan di rumah masing-masing. Akan tetapi air terus bertambah tinggi, sehingga memaksa mereka mengungsi dan menempati tempat penampungan di perumahan milik perusahaan perkebunan karet.

Akan tetapi banjir tersebut mulai surut kembali sekira pukul 6.00 WIB. "Banjir ini mendadak, seperti banjir bandang mulai merendam rumah warga Jumat dini hari sekira pukul satu. Kemudian memasuki siang hari air berangsur mulai surut lagi," kata Yono.

Tidak lama setelah kejadian, lanjutnya, peristiwa itu langsung dilaporkan ke Pemkab Tasikmalaya. Sore harinya, Sekda Tasikmalaya Drs. Akhmad Saleh K. didampingi beberapa pejabat, termasuk dari bagian sosial sudah berada di lokasi meninjau langsung lokasi musibah banjir yang menimpa kecamatan Cipatujah.

Saat dihubungi usai meninjau lokasi banjir, Sekda mengungkapkan penyebab musibah bandang itu, diduga karena hutan di daerah itu sudah banyak yang gundul. Sehingga begitu hujan deras turun, air langsung mengalir tidak tertahan atau terserap tanah.

Setelah melihat lokasi, selain memberikan bantuan kepada warga yang terkena musibah Pemkab. Tasik juga tengah mengupayakan perbaikan jembatan yang rusak akibat musibah banjir sebelumnya. "perbaikan jembatan dan jalan disana sudah diusulkan ke provinsi. Malah beberapa hari lalu, dari Komisi D DPRD Jabar sudah melakukan peninjauan ke lokasi. Mudah-mudahan saja perbaikan jembatan di sana bisa dilakukan dalam waktu dekat," ungkapnya.

Siang hari banjir yang menggenangi rumah warga berangsur surut. Malah warga yang sempat mengungsi sementara, sudah mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Sementara itu berdasarkan hasil pendataan aparat desa setempat nilai kerugian material yang dialami warga diperkirakan mencapai 350 juta.

Menurut Agus Komarudin sekretaris desa setempat, musibah banjir sebesar ini baru pertama kali terjadi menimpa daerahnya dan di luar dugaannya.

Read more!(Selengkapnya)

Polemik Nilai Kompensasi Air Bersih Paniis Berakhir (Clean Water MoU between Kuningan and Cirebon)

Source: Pikiran Rakyat

Bupati Kuningan dan Wali Kota Cirebon Sepakati MoU

Polemik kompensasi air Paniis antara Pemkab Kuningan dengan Pemkot Cirebon, akhirnya selesai. Kedua belah pihak, dalam hal ini Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda dan Wali Kota Cirebon Subardi, sudah menyepakati naskah perjanjian kerja sama (MoU) tentang pengelolaan air bersih Paniis yang dirumuskan tim kecil dari kedua pemda bertetangga tersebut.

Menurut informasi yang diperoleh "PR", Jumat (17/12), kesepakatan atas naskah MoU itu sebetulnya telah dicapai pada pertemuan antara Aang dengan Subardi, di Cirebon, tanggal 15 Desember lalu. Pertemuan puncak itu dilakukan setelah kedua pucuk pimpinan daerah tersebut, mempelajari isi kesepakatan dimaksud.

English Translation

The Kuningan regent and the Cirebon Mayor agreed to MoU

Kuningan, (PR).-
Paniis polemics of water compensation between Pemkab Kuningan and Pemkot Cirebon, were finished. Secondly the team, in this case the Aang Hamid Suganda Brass Regent and the Mayor Cirebon Subardi, has agreed to the text of the co-operation agreement (MoU) about the clean Paniis water management that was formulated by the small team from the two neighbouring regional governments.

According to information that was received by "PR", on Friday (17/12), the upper agreement the text MoU that actually was reached in the meeting between Aang and Subardi, in Cirebon, last December 15. The meeting of the peak was carried out after the two regional governing boards, studied the contents of the agreement was meant.

Hanya saja, sejauh ini, belum dapat diketahui pasti berapa nilai kompensasi yang bakal diterima Pemkab Kuningan berkaitan dengan pemanfaatan sumber air Paniis itu oleh PDAM Kota Cirebon. Namun, menurut informasi yang berkembang, nilai kompensasi yang wajib disetorkan Pemkot Cirebon kepada Pemkab Kuningan berkisar antara Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar. Isi dari naskah kesepakatan itu sendiri tidak menuangkan nilai riil kompensasi, karena hanya mencantumkan rumus-rumus berikut variable yang akan mengarah kepada besaran nilai kompensasi dimaksud.

Asda Pemerintahan Pemkab Kuningan, Charsono N.S., yang juga ketua tim kecil masalah air Paniis, membenarkan, Bupati Aang Hamid Suganda dan Wali Kota Subardi, telah menyepakati isi kesepakatan pengelolaan air Paniis. "Kesepakatan itu memang dicapai melalui pertemuan Pak Aang dengan Pak Subardi di Cirebon, tapi tidak dilakukan secara formal. Rencananya, kami baru akan menyampaikan masalah ini kepada pers, Senin pekan depan," jelasnya.

Namun, Charsono tidak bersedia menyebutkan berapa nilai kompensasi yang akan diberikan Pemkot Cirebon sebagaimana diatur dalam kesepakatan tersebut. Ia berujar, dalam naskah kesepakatan itu tidak mencantumkan nilai kompensasi, dan hanya mencantumkan variabel rumusan hak dan kewajiban kedua belah pihak. "Yang jelas, isi kesepakatan ini saling menguntungkan, dan tidak merugikan salah satu pihak. Semuanya demi kesejahteraan masyarakat, baik di Cirebon maupun di Kuningan ini," ujarnya.

Diungkapkan Charsono, dalam merumuskan naskah kesepakatan itu, dua tim kecil dari masing-masing daerah telah bekerja, baik menyangkut aspek teknis (water meter) maupun nonteknis (MoU). Khusus untuk water meter, nantinya akan digunakan jenis digital ultrasonic. Sistem penghitungan pemanfaatan air dengan menggunakan gelombang ultrasonik itu akan lebih akurat dan tidak perlu dilakukan pemutusan pasokan air ketika hendak dilakukan penghitungan layaknya water meter manual.

Lestarikan lingkungan

Secara garis besar, Charsono menjelaskan isi dari naskah kerjasama pemanfaatan air Paniis yang telah disepakati Aang dan Subardi antara lain, pihak Pemkab Kuningan wajib menjaga kelestarian lingkungan dan konservasi di sekitar sumber air Paniis. Kemudian, Pemkot Cirebon berhak menggunakan air dari Paniis itu.

"Intinya, Pemkab Kuningan sebagai pihak kesatu sepakat menyerahkan pemanfaatan air yang tersedia di Paniis kepada pihak kedua (Pemkot Cirebon-red)," ungkapnya.

Kemudian, Pemkot Cirebon sebagai pihak kedua, menerima penyerahan pemanfaatan air untuk penyediaan air bersih yang akan dilaksanakan PDAM Kota Cirebon dengan debit air yang diizinkan setelah melalui pertimbangan teknis dari dinas teknis terkait. Pihak kedua, wajib memenuhi ketentuan izin pengelolaan air bawah tanah dan irigasi, serta membantu kepentingan Kab. Kuningan. "Dan memberikan kompensasi untuk melindungi dan pelestarian daerah catchment area (daerah tangkapan air-red) sumber mata air sesuai kesepakatan," jelas Asda Pemerintahan itu.

Adapun rumusan untuk menentukan besaran kompensasi digariskan dalam bentuk rumus yakni persentase X tarif air yang berlaku sebelum diolah X produksi air dikurangi kebocoran 25 persen. "Yang jelas, semakin tinggi pemakaian akan semakin besar nilai kompensasinya. Ketentuan ini, akan ditinjau ulang setiap tiga tahun," jelas Charsono, seraya tetap menolak menyebutkan nilai pasti dari kompensasi sebagaimana rumus yang disepakati dimaksud.

Read more!(Selengkapnya)

Thursday, December 16, 2004

Government to woo potential infrastructure investors

Source: Jakarta Post

Dadan Wijaksana, The Jakarta Post, Jakarta

The government plans to invite at least 500 potential local and foreign investors to the Infrastructure Summit in January, where it will unveil a framework for planned infrastructure projects over the next five years.

Trade counsels and representatives from neighboring countries, local and global commercial banks, trade chambers and business associations, and national and multinational firms will be among those invited to the summit, State Minister for National Development Planning Sri Mulyani Indrawati said on Wednesday.

Also to receive invitations will be research centers, think thanks, non-governmental organizations and other interest groups.

At a press briefing prior to a seminar on infrastructure, Sri Mulyani said the list of invites would likely grow in view of the amount of financing necessary for the massive infrastructure projects the government has planned over the next five years.

"The funding required over the next five years for the sector will be between Rp 700 trillion (some US$77 billion) and Rp 1,030 trillion, with most of this money having to come from the private sector," said Sri Mulyani.

The government has said it requires financing to build roads, railways, ports, airports, power plants, telecommunication facilities, natural gas transmission and distribution facilities, water plants, irrigation facilities, housing and other crucial infrastructure.

The figures mentioned by Sri Mulyani, however, are much higher than the Rp 600 trillion mentioned earlier by President Susilo Bambang Yudhoyono.

The National Development Planning Board (Bappenas), chaired by Sri Mulyani, has been ordered to draw up a road map for investment in the infrastructure sector for presentation at the Infrastructure Summit on Jan. 17 and Jan. 18.

Improving infrastructure is deemed vital by the current administration to achieve the targeted 6.5 percent average annual economic growth.

Not only will improved infrastructure help attract investment to the country, the development of infrastructure projects will create significant numbers of job -- an important benefit for Indonesia, where about 40 million people are unemployed.

Sri Mulyani said of the total financing needed for the planned infrastructure projects, the state budget could provide about Rp 200 trillion, with about Rp 200 trillion more coming from the domestic banking sector.

The remaining money will have to come from the private sector, both domestic and international investors, including global financial institutions such as the World Bank and the Asian Development Bank, Sri Mulyani said.

Funding needs for road network in 2005-2009 -------------------------------------------- Program Funds -------------------------------------------- Road maintenance Rp 58.1 trillion New road development Rp 100.0 trillion Toll roads Rp 90.2 trillion ---------------------------------------------Total Rp 248.3 trillion ---------------------------------------------Source: Bappenas

Read more!(Selengkapnya)

Wednesday, December 15, 2004

'Jalan tol dan air minum berpeluang tarik investor' (Toll Road and Drinking Water Opportunities for the Investor)

Source: Bisnis Indonesia

JAKARTA (Bisnis): Pemerintah akan memanfaatkan forum Infrastructure Summit 2005 untuk menjual peluang investasi paling potensial di jalan tol dan air minum kepada para investor. Menurut Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum, forum itu sangat potensial untuk menjadi media menjual kegiatan investasi di Indonesia karena akan dihadiri oleh sekitar 500 peserta yang terdiri a.l. dari kalangan pengusaha, banker, pengamat investasi, wakil pemerintahan dari berbagai negara.

"Acara Infrastructure Summit yang akan dilaksanakan pada Januari 2005 di Jakarta akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjaring investor bagi pembangunan infrastruktur nasional," katanya di Jakarta pekan lalu.

Dia mengatakan pemerintah sebenarnya akan menjual seluruh jenis proyek infrastruktur dalam kegiatan itu, tapi yang dianggap paling unggul itu adalah proyek jalan tol dan air minum.

English Translation

Jakarta (Bisnis): the Government will make use of the Infrastructure Summit forum 2005 to sell the investment opportunity most potential in the toll road and the drinking water to the investors. According to Djoko Kirmanto, Minister Pekerjaan Umum, the forum was very potential to become the media sold the investment activity in Indonesia because of being attended by approximately 500 participants who consisted a.L.From the businessman's circle, banker, the observer of investment, the representative of the government from various countries.

The "Infrastructure Summit agenda that will be carried out in January 2005 will in Jakarta be made use of as maximally as possible to catch the investor for the national development of the infrastructure," he said in Jakarta last week.

He said the government in fact will sell all the kind of the infrastructure project in the activity, but that was regarded as most superior that was the toll road project and the drinking water.

Kedua jenis proyek, tuturnya, dinilai lebih siap untuk ditawarkan kepada investor internasional yang akan hadir dalam forum itu.

Hal itu, lanjutnya, dapat dilihat dari kesiapan regulasi bisnisnya, dimana UU Jalan dan UU Sumber Daya Air sudah ada.

Sementara itu, katanya, PP untuk jalan tol dan air minum juga tengah dikebut oleh pemerintah, sehingga diharapkan dapat segera selesai.

Cetak biru

Menurut dia, pemerintah sendiri sudah memiliki cetak biru tentang proyek-proyek strategis yang bisa digarap oleh investor di bidang jalan tol dan air bersih.

"Data kita tentang ruas-ruas jalan tol dan air minum yang potensial untuk digarap swasta akan ditawarkan secara intensif untuk menarik mereka," katanya.

Selain itu, Djoko mengatakan pihaknya akan membangun prasarana jalan dan jembatan di kawasan perbatasan Kalimantan untuk mengatasi masalah hukum di wilayah tersebut.

Menteri PU mengatakan langkah itu untuk menjaga keutuhan integritas wilayah di perbatasan yang rawan menghadapi masalah sengketa hukum internasional.

"Kami akan anggarkan rencana pembangunan jalan dan jembatan di kawasan perbatasan di Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pada tahun anggaran 2005."

Dia menuturkan proyek di wilayah perbatasan dengan Malaysia dan Brunei Darussalam itu sepenuhnya menjadi prasarana, sehingga harus dibiayai dengan anggaran pembangunan.

Menurut dia, pembangunan infrastruktur di sana belum menarik untuk komersial karena rendahnya kelayakan usahanya.

"Contohnya kalau dijadikan jalan, trafik lalulintasnya masih kecil. jadi tidak mungkin investor mau investasi di sana."

Menurut Djoko, pembangunan jalan dan jembatan itu sendiri bagian dari rencana kerjasama ekonomi sub regional Brunei-Indonesia-Malaysia-Phillipina-East Asia Growth Area (BIMPEAGA).

"Di samping keamanan, kita ingin menjadikan kawasan perbatasan sebagai beranda depan wilayah Indonesia, serta sebagai pintu gerbang internasional," ujarnya.

Untuk itu, lanjut menteri, penanganan daerah perbatasan dimasukkan dalam program jangka menengah tahun 2005-2009.

Pemerintah sendiri, menurut dia, berharap proyek itu bisa memberikan akses kepada masyarakat di kawasan perbatasan agar ekonomi masyarakat bisa bergerak dengan cepat. (irs)

Read more!(Selengkapnya)

Sebanyak 62 DAS Kritis (62 River Basins Critical)

Source: Republika Online

Lima faktor penyebab kritisnya DAS adalah penutupan lahan oleh tanaman, jarak tanam, kejenuhan tanah, kekasaran lahan, dan penutupan lahan antar tanaman. Kondisi lingkungan di Tanah Air kian memprihatinkan saja. Saat ini Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilyah (Depkimpraswil) telah mengindikasikan sebanyak 62 daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia kritis. Kondisi itu menyebabkan sekitar 21 juta hektar lahan juga mengalami kritis.

English Translation

Five factors of the cause of the criticalness of the DAS were the closing of the land by the crop, the distance planted, land saturation, coarseness, and the closing of the land of the land delivered the crop. The condition for the environment in the Homeland increasingly just worrying. At this time the Department and the Wilyah Infrastructure of the Settlement (Depkimpraswil) indicated as many as 62 river basins (DAS) in critical Indonesia. The condition caused around 21 million hectare the land also experienced critical.

Penelitian terhadap sungai-sungai kritis tersebut, dilakukan oleh Ery Suhartanto, mahasiswa S3, Ilmu Keteknikan Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Penelitian yang dilakukan Ery selama dua tahun ini juga menyimpulkan beberapa faktor penting penyebab kritisnya DAS di Tanah Air. Menurut Ery ada beberapa indikator penting yang bisa dijadikan acuan sehingga sebuah DAS bisa dikategorikan kritis. Beberapa kriteria penetapan DAS kritis antara lain rendahnya persentase penutupan lahan, tingginya laju erosi tahunan, besarnya rasio debit sungai maksimum dan debit minimum, serta kandungan lumpur yang berlebihan (sediment load).

Pendugaan erosi, sedimen, dan run-off tersebut dilakukan berbasis model hidrologi Water Erosion Prediction Project (WEPP) dan System Information Geografis (SIG). Teknologi ini pula yang digunakan, sehingga diketahui kondisi sekitar 62 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis. ''Dengan tehnik WEPP, kita bisa menentukan titik kritis DAS dan memulai merancang upaya konservasi,''papar Ery.

Setelah melakukan penelitian di sejumlah lokasi, akhirnya Ery berhasil mengetahui lima faktor tanaman dan lahan yang signifikan berpengaruh terhadap erosi, sedimen, dan run off. Kelima faktor tersebut di antaranya penutupan lahan oleh tanaman, jarak tanam, kejenuhan tanah, kekasaran lahan, dan penutupan lahan antar tanaman.

Menurut Ery, erosi bisa menimbulkan kerusakan pada tanah, terjadinya erosi di hulu maupun daerah hilir di tempat tanah yang terangkut tersebut diendapkan. Kerusakan pada tanah erosi dapat berupa kemunduran sifat-sifat kimia dan fisik tanah yang pada akhirnya mengakibatkan pertumbuhan tanaman dan produktivitasnya turun. Sedangkan di daerah hilir, pengendapan berdampak pada pendangkalan sungai, waduk, dan saluran irigasi.

Beberapa faktor yang berkenaan dengan erosi sungai diketahui setelah Ery melakukan penelitian di sub-DAS Ciriung dan DAS Cidanau, Jawa Barat. Selain itu, menurut Ery, perubahan penggunaan lahan (vegetasi) yang tak terkendali merupakan salah satu faktor meningkatnya erosi, sedimen, dan run off di DAS. Faktor lain yang tak kalah berpengaruh yakni iklim, topografi, tanah, dan manusia. Namun, dari sekian faktor tersebut, beberapa faktor dapat dimanipulasi. Tentu ini memberikan alternatif pengendalian atau pencegahan erosi.

Komponen yang bisa dikendalikan tersebut antara lain faktor tanaman, tanah, dan topografi. Sementara, usaha mempertahankan keberadaan vegetasi penutup tanah merupakan cara paling efektif dan ekonomis dalam mencegah meluasnya erosi permukaan. Dalam penelitiannya, Ery lebih memfokuskan upaya pencegahan dan pengendalian erosi, sedimentasi, dan run off dengan memilih lokasi di Sub-DAS Ciriung dan DAS Cidanau. Tak jauh berbeda dengan DAS lain, DAS Cidanau berpotensi mengalami erosi lebih besar dari batas yang ditolerir.

Kualitas air DAS Cidanau juga memperlihatkan kecenderungan degradasi dari tahun ke tahun. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan. Sebab, Danau Cidanau selama ini dijadikan sumber air berbagai kegiatan industri di daerah sekitarnya. Apalagi berkenaan rencana Pemerintah Daerah Banten yang ingin membangun pelabuhan di dekat kawasan ini. Tentu, kebutuhan air bersih terus meningkat. Oleh karena itu, diperlukan teknik pendugaan dan pengendalian erosi berbasis model hidrologi berskala ruang dan waktu terpadu untuk mengurangi degradasi DAS Cidanau dan mendukung konservasi lahan dan air. Pengendalian erosi dan sedimen, menurutnya, dilakukan dengan mencegah perluasan ladang dari hilir ke hulu, terutama pada luas ladang 60 persen. Sementara, pengendalian run off bisa ditempuh dengan mencegah perluasan ladang dari hilir ke hulu, terutama pada luas ladang 40 persen.

Ery juga menyarankan, pengendalian erosi dilakukan dengan cara memperbesar tingkat penutupan lahan oleh tanaman lebih dari 60 persen, mengatur jarak tanam yakni untuk ladang 10 cm hingga 20 cm dan kebun 100 cm. Selain itu di Sub DAS Ciriung khususnya dan DAS Cidanau umumnya, sebaiknya dilakukan pendekatan sosial, ekonomi dan budaya. Sehingga, pemilik lahan atau petani setempat mau melakukan usaha konservasi dengan tidak membuka lahan pertanian di kawasan penyangga atau proteksi.

Read more!(Selengkapnya)

Tuesday, December 14, 2004

2010, Bandung Metropolitan Krisis Air (2010, Metropolitan Bandung Water Crisis)

Source: Republika

SOREANG --Setiap tahun, terjadi penurunan muka air tanah hingga dua meter. Ancaman dampak lingkungan yang terjadi di Bandung metropolitan area (BMA) semakin serius. Pada 2010, diperkirakan BMA akan mengalami difisit kebutuhan air bawah tanah dan air pemukaan (ABT AP) hingga 130 juta meter kubik. Data dari Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Provinsi Jawa Barat menunjukkan, kebutuhan masyarakat terhadap air pada 2010, mencapai 1,98 miliar kubik. Sementara stok air permukaan dan air bawah tanah pada tahun 2010, hanya 1,85 miliar kubik.

Kebutuhan air di BMA hanya bisa tertutupi hingga 2005. Pada tahun 2005, sisa potensi air setelah menutupi kebutuhannya, hanya 50 juta meter kubik. Kondisi tersebut lebih buruk dibandingkan pada 2002, yang mampu menyisihkan sisa potensi air dari kebutuhannya, sebanyak 150 juta meter kubik. Potensi ABT AP itu, berasal dari 29 titik potensi air yang ada di BMA, yakni Kabupaten dan Kota Bandung, Kabupaten Sumedang, serta Kota Cimahi. Indikasi ancaman krisis air itu, diperkuat pula dengan kajian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung.

English Translation

SOREANG -- Every Year, the decline in the face of the ground water happened through to two metre. The threat of the impact of the environment that happened in metropolitan Bandung of the area (BMA) increasingly serious. In 2010, was estimated by BMA will experience difisit the underground requirement and water for water pemukaan (ABT AP) through to 130 million cubic metre. The data from the Body of regional Planning (Bapeda) the West Javanese Province showed, the requirement for the community for water in 2010, reached 1,98 billion cubic. Temporary stock and underground water of the surface water during 2010, only 1.85 billion cubic.

The requirement for water in BMA could be only covered till 2005. During 2005, potential for water after covering his requirement, only 50 million cubic metre. This condition was worse was compared in 2002, that could eliminate potential for water from his requirement, totalling 150 million cubic metre. The potential the ABT AP, came from 29 available points of the potential for water in BMA, namely the Regency and the Bandung City, the Sumedang Regency, as well as the Cimahi City. The indication of the threat of the water crisis, was reinforced also with the study of the environmental Service (DLH) the Bandung Regency.

Hampir setiap tahun, terjadi penurunan muka air tanah hingga dua meter. Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung, H Abu Bakar mengatakan, penurunan muka air tanah itu, disebabkan oleh maraknya eksploitasi sumber ABT. Menurut dia, praktik eksploitasi ABT itu, kerap dilakukan oleh oknum industri. ''Kami prihatin dengan kondisi tersebut. Mudah-mudahan, ancaman krisis air tersebut tidak terwujud,'' ujar Abu kepada wartawan, Senin (13/12). Menurut dia, seluruh pemerintah daerah yang ada di BMA, harus duduk satu meja dalam mengantisipasi ancaman tersebut.

Mulai tahun ini, imbuh Abu, masing-masing daerah harus mengambil kebijakan tentang pemulihan lingkungan, di antaranya reboisasi hutan, serta normalisasi sungai. Menurut dia, tiga pemerintahan daerah itu harus bersepakat memberantas praktik perusakan lingkungan. Bahkan, ditegaskan Abu, tidak akan ada kompromi lagi bagi oknum perusak lingkungan.

Sementara Bupati Bandung, H Obar Sobarna, mengatakan, sebagai upaya untuk mengantisipasi ancaman lingkungan itu, pemkab sudah mulai membenahi rencana tata ruang dan wilayah (RTRW). Menurut dia, dalam waktu dekat ini, pemkab akan mengantongi data yang menjadi landasan pembenahan Perda 12/2001 tentang RTRW. ''Kami sudah menggelar semiloka tentang perumusan tata ruang Kabupaten Bandung,'' ujar Obar kepada wartawan, Senin (13/12). Dipaparkan dia, semiloka itu membuktikan bahwa pemkab mengakomodir aspirasi masyarakat, yang keberatan dengan RTRW Kabupaten Bandung.

Obar menandaskan, RTRW merupakan payung hukum yang bersifat fleksibel. Artinya, sambung dia, RTRW tersebut bisa berubah, sesuai tuntutan lingkungan dan stakeholders terkait. Pada bagian lain, Obar membantah, jika dikatakan bahwa RTRW Kabupaten Bandung lebih mengakomodir kepentingan pengusaha perumahan. Menurut dia, tidak seluruh lahan pemukiman yang terdaftar dalam RTRW bisa dibangun. Ia menegaskan, setiap pembangunan perumahan harus melalui proses analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).

''Sekali pun dalam RTRW dibolehkan, kami akan mengacu pada hasil pembahasan amdal,'' katanya menambahkan. Karena itu, Obar menambahkan, masyarakat tidak perlu sangsi dengan ketetapan RTRW itu. Obar membenarkan bila kondisi lingkungan di BMA semakin memburuk. Untuk itu, Obar meminta masyarakat untuk ikut memulihkan kondisi lingkungan BMA, khususnya yang berkaitan dengan ketersediaan air.

Ia mengaku siap menerima laporan tentang praktik perusakan lingkungan. Ia juga berjanji, akan menindaklanjuti laporan tentang perusakan lingkungan. Ketua Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH), Thio Setiowekti, menyambut baik upaya pemkab dalam merevisi RTRW Kabupaten Bandung. Namun, ia pesimis hasil semiloka itu bisa ditindaklanjuti dalam revisi RTRW.

''Saya mencium, sebagian pejabat pemkab sudah terkontaminasi oleh kepentingan pengusaha,'' ujar Thio, Senin (13/12). Buktinya, kata dia menegaskan, hingga kini pemkab tidak mampu menertibkan lahan pemukiman yang bertentangan dengan kelestarian lingkungan.

Read more!(Selengkapnya)

Extract from World Bank Operational Summary - Proposed Water Related Projects in Indonesia (as of December 2004)

Source: World Bank

Third Water Supply and Sanitation for Low-Income Communities:

Water Resources and Irrigation Sector Management (Ln. 4711-IND, Cr. 3807-IND):

Urban Water and Sanitation Improvement and Expansion:

Urban Water Supply and Sanitation:

Health, Nutrition and Population

Third Water Supply and Sanitation for Low-Income Communities:
The project will build on the achievements of the two preceding projects and focus on the kabupatens in the eastern part of the country farthest from achieving the Millennium Development Goals for water supply and sanitation. Project is being identified. Environmental Assessment Category B. US$ 150.0 (IBRD/IDA). Consulting services to be determined. Ministry of Health Directorate General for Communicable Disease Control and Environment, Jl. Percetakan Negara No. 29, PO Box 223, Jakarta, Indonesia, Tel: (62-21) 420-9930, Fax: (62-21) 420-7807, E-mail:, Contact: Professor Dr. Umar Fahmi Ahmadi, Director General for Communicable Disease Control and Environment

Rural Development

Water Resources and Irrigation Sector Management (Ln. 4711-IND, Cr. 3807-IND):
The objectives of the project are to (a) develop and build the capacity of Irrigation Water User Associations (WUAS) and District Irrigation Agencies; (b) establish local Irrigation Improvement Funds for irrigation facilities and for rehabilitation and completion of canals for irrigation schemes; (c) support an irrigation and agricultural extension program; (d) build the capacity of River Basin Management Units; and (e) finance river improvement work. Loan and credit signing is scheduled for late December 2004. Environmental Assessment Category B. PID: 59931. US$ 70.0 (IBRD/IDA). Consultants for preparation have been selected and negotiations are in progress. Directorate General for Water Resources, Ministry of Settlement and Regional Infrastructure, Pattimura 20, Jakarta Selatan, Indonesia, Tel: (62-21) 739-3006, Contact: Jl. Ir. Sri Nurumi, Director; Ministry of Home Affairs and National Planning Agency, Direcotrate Technical Guidance, Ministry of Settlement and Regional Infrastructure

Urban Development

(R) Urban Water and Sanitation Improvement and Expansion:
The objective of the project is to improve and expand the delivery of water supply and sanitation services by strengthening the local provision of those services in an operationally efficient and financially sustainable manner. Negotiations were scheduled for late November 2004. Environmental Assessment Category B. PID: 84872. US$ 58.2 (IBRD). Consulting services to be determined. Ministry of Settlements and Regional Infrastructure, Jl. Pattimura No. 20, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Indonesia, Tel: (62-21) 727-96155/58, Fax: (62-21) 727-96155, E-mail:, Contact: Mr. Budiman Arif, Director General of Urban and Rural Development

Urban Development

Urban Water Supply and Sanitation:
The objective of the project is to expand sewerage infrastructure in local governments, enable private sector participation in operating and maintaining existing water and sanitation facilities, and design instruments to ensure inclusion of low-income communities residing in the service areas. Appraisal was scheduled for December 2004. Environmental Assessment Category A. PID: 60668. US$ 60.0 (IBRD). Consulting services to be determined. Ministry of Settlements and Regional Infrastructure (Kimpraswil), Jl. Pattimura 20, Kebayoran Baru, Jakarta 12110, Indonesia, Tel: (62-21) 722-1772, Contact: Ir. Budiman Arif, Director General, Directorate General of Urban and Rural Development

Read more!(Selengkapnya)

Water company fined over foul bid

Source: Jakarta Post

The Jakarta Post, Jakarta

The Business Competition Supervisory Commission (KPPU) fined on Monday water operator PT Thames PAM Jaya (TPJ) Rp 1 billion (US$111,111) for colluding in a service tender late last year.

KPPU member Soy M. Pardede, who presided over the trial, said the commission also punished PT Interteknis Surya Terang (IST), which won the tender last year, by prohibiting it from participating in any tenders conducted by TPJ for two years.

He said TPJ and IST were guilty of violating Article 22 of Law No. 5/1999 on monopolies and healthy business competition by colluding to determine the outcome of the Rp 5 billion tender.

The incident began when TPJ held a tender to recruit some 307 security officers.

Soy said 16 companies submitted documents for prequalification for the tender. The tender committee later announced that only 12 of the companies, including PT Gardatama Nusantara, which lodged the complaint that led to the trial, fulfilled all the necessary requirements.

Thames PAM Jaya included IST in the next stage of the tender process even though it did not submit documents for prequalification.

"Such practices are against healthy business competition," Soy said when reading the ruling.

The KPPU also ordered TPJ to repeat the tender, without including IST. The commission also will monitor all of the company's future procurements to prevent a repeat of this incident.

IST lawyer Djuang Prastyanto said he would consult with his client before responding to the ruling. "But we may lodge an objection to the ruling."

Both TPJ and Gardatama refused to comment on the matter.

TPJ and IST have 14 days to respond to the verdict.

British-based TPJ has been a partner of city-run water operator PD PAM Jaya since 1998. It serves tap water consumers in eastern Jakarta.

Read more!(Selengkapnya)

Govt to let councils set water rates

Source: Jakarta Post

Muninggar Sri Saraswati, The Jakarta Post, Jakarta

Following the enactment of a controversial water resources law, the government is expected to surrender its power to determine water rates and manage regional tap water companies to regional consultative councils.

Patana Rantetoding, the director general of city and village affairs of the public works ministry, said on Monday the issue would be covered in a government regulation on the development of tap water systems.

The government regulation will be passed in support of Law No. 4/2004 on water resources. The government is currently completing the draft of the regulation.

"Consultative councils, according to the draft of the government regulation, are legislative councils located in state-owned and regional-owned tap water companies," Patana was quoted by Antara as saying.

He said the councils would consist of both members of society as well as representatives of the central government and local administrations.

During a discussion on the draft regulation, Patana said the main duties of the council would be to set water rates and to appoint directors of regional tap water companies, a privilege currently in the hands of local administrations.

"The rates will be based on local income levels. That is why it must be decided by consultative councils," Patana said.

These councils also will be able to rule on the possible involvement of the public sector, including cooperatives and public groups, in the tap water business, he said.

"The private sector will be allowed to participate in the business with the consent of a consultative council," Patana said.

He said the approximately 300 regional tap water companies (PDAM) were still unable to deliver water to the majority of Indonesians.

"With some 95,500 cubic meters a second, the PDAMs can only deliver water to some 40 million customers. With this capacity, it should be able to fill the needs of some 100 million customers," Patana said.

Separately, activist Nila Ardhiani of the People's Coalition for Water Access criticized the draft regulation, saying it would result in a heavier burden on the people, particularly the poor.

"The government is creating too many new institutions for the water sector. Who will pay for those institutions? I fear that it will influence the tap water rates," she said.

Nila also questioned whether the government would be able to guarantee that members of the consultative councils would really represent the public.

"How can they guarantee the members will not represent just the interests of the private sector?" she asked, criticizing the government for its half-hearted attempt to involve the public in drafting the regulation.

Indonesia's water resources law has been roundly criticized for, among other things, encouraging the privatization of the water sector.

Activists have brought the law to the Constitutional Court for a judicial review.

Read more!(Selengkapnya)

Monday, December 13, 2004

Antri di Hidran Air (Water Hydrant Queue)

Source: Pikiran Rakyat

SEORANG petugas pemadam kebakaran Kota Bandung menyegarkan wajahnya dengan cipratan air dari sebuah hidran saat menunggu giliran untuk mengisi kembali air usai melakukan pemadaman api di Jalan Supratman Bandung, Selasa (26/10). Kurangnya sumber air di Bandung untuk mengisi mobil pemadam, membuat mereka harus berjajar menunggu giliran sehingga sering menghambat proses pemadaman kebaran. * M. GELORA SAPTA/"PR"

English Translation

A Bandung City firefighter refreshed his face with cipratan water from one hidran when waiting for the turn to fill again up water after doing the extinguishing of fire in the Road of Supratman Bandung, on Tuesday (26/10). The shortage of the source of water in Bandung to fill up the extinguisher car, made them must line up was waiting for the turn so as often hindered the process of the extinguishing kebaran.

Read more!(Selengkapnya)

Saturday, December 11, 2004

Pintu Klep Citanduy Kerap Macet (Entrance to Citanduy River blocked)

Source: Pikiran Rakyat

Pimpro Induk Pengembangan Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan, Agus Rahardjo, sering dibuat jengkel oleh sikap masyarakat yang masih membuang sampah ke Citanduy seenaknya. Padahal sampah yang masuk ke Citanduy, kerap menyebabkan dua pintu klep utama di Kec. Padaherang, Ciamis, tidak berfungsi. Akibatnya, daerah Padaherang, Banjarsari dan sekitarnya mengalami banjir, sewaktu hujan lebat.

English Translation

Ciamis, (PR).-
Pimpro the Mother of the Development of the River Territory of Citanduy-Ciwulan, Agus Rahardjo, was often made irritated by the community's attitude that still was throwing the waste to Citanduy in any way away. In fact the waste that entered Citanduy, often caused two main doors to the valve in Kec. Padaherang, Ciamis, did not function. As a result, the Padaherang area, Banjarsari and surrounding area experienced the flood, when heavy rain.

"Masyarakat sering membuang batang pisang ke sungai. Padahal dampaknya cukup besar, karena bisa mengganggu pintu klep," jelas Agus Rahardjo, kepada "PR", Jumat (10/12), di Ciamis.

Dari beberapa kali kasus banjir di Ciamis Selatan, seperti Padaherang, sebagian besar atau 50 persen, karena pintu klep di Ciganjeng tidak berfungsi. Padahal pintu klep itu berfungsi untuk mengatur keluar masuk air dari sungai atau dari daerah Ciganjeng menuju sungai. "Kalau pintu klepnya sudah macet, jelas genangan air dari Ciganjeng menjadi terhambat," paparnya.

Oleh karena itu, Agus berharap agar masyarakat tidak membuang sampah, terutama batang pohon pisang, ke Citanduy, sehingga pintu klep di daerah alirn sungai itu bisa berfungsi dengan baik.

Pada kesempatan itu, Agus juga mengaku, saat ini ada enam titik tanggul di daerah DAS Citanduy yang mengalami kerusakan. Tanggul-tanggul penghalang itu, sedang diupayakan untuk diperbaiki, karena fungsinya juga cukup baik untuk mencegah luapan sungai ke daerah pemukiman.

Mengenai banjir yang terjadi di Cipatujah, Tasikmalaya, menurut Agus Rahardjo, hal itu karena daerah muara Ciwulan sudah dangkal. Muara Ciwulan itu mestinya segera dikeruk, tapi belum bisa dilakukan karena biayanya cukup besar. Selain itu, upaya pengendalian Ciwulan selama ini juga tidak dilakukan berdasarkan master plan, karena memang baru akan diusulkan.

Read more!(Selengkapnya)

Menambah Buruk Kualitas Air Saguling (Worsening water quality in Saguling Reservoir)

Source: Pikiran Rakyat

Bangkai Ikan Percepat Kerusakan Mesin PLTA

Tingkat kerusakan mesin di Unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling Kab. Bandung, semakin lama makin mengkhawatirkan akibat kualitas air memburuk. Keadaan itu diperparah dengan banyak bangkai ikan di perairan Saguling, sehingga pencemaran bertambah tinggi.

English Translation

the Fish Carcass sped up Machine Damage of PLTA

Bandung, (PR).-
The level of machine damage in the Unit of the hydroelectric Generator (PLTA) Saguling Kab. Bandung, increasingly old increasingly worrying as a result of the quality of water worsened. The situation was aggravated with many fish carcasses in Saguling waters, so as pollution got high.

Demikian diungkapkan General Manajer Unit Pembangkit Saguling, Ir. Sumarna saat dihubungi "PR", Jumat (10/12), menanggapi banyaknya ikan yang mati di Waduk Saguling. "Dengan kualitas air yang buruk, ikan saja mati apalagi pada alat-alat dan mesin pembangkit bisa mempercepat korosi," katanya.

Sumarna menjelaskan, alat yang mengalami rusak parah terjadi pada mesin pendingin. Alat yang dipasang di pembangkit itu harus diganti mengingat sering sekali bocor. "Kalau menurut standar pabrik, alat tersebut seharusnya bertahan 5 tahun sampai 8 tahun. Namun pada kenyataannya, karena kualitas air yang buruk, alat tersebut hanya bertahan satu tahun saja," katanya.

Mengenai banyaknya ikan yang mati di Saguling, Sumarna mengungkapkan, secara langsung memang kurang berpengaruh terhadap kerusakan mesin. Akan tetapi akibat bangkai ikan memperburuk kualitas air dan itu mempercepat kerusakan mesin pembangkit. "Semakin buruk kualitas air, semakin besar pengaruhnya terhadap kerusakan mesin pembangkit," kata Sumarna.

Dia menjelaskan, banyak faktor yang memperburuk kualitas air di Waduk Saguling. Salah satunya karena limbah pabrik dan rumah tangga yang dibuang ke Sungai Citarum (sebagai sumber air bagi PLTA Saguling) semakin banyak. Begitu juga pakan ikan yang mengendap di dasar sungai, cukup berpengaruh dan memperburuk kualitas air.

Menurut Sumarna, untuk menanggulangi hal tersebut, berkali-kali melakukan penelitian kualitas air dan hasilnya sudah diserahkan kepada pemerintah. Namun sampai sekarang, belum ada tindak lanjut yang nyata mengingat banyak pihak yang terkait dengan masalah itu.

Kematian ikan

Seperti diberitakan sebelumnya, 10,85 ton ikan nila dan mas yang dibudidayakan di Waduk Saguling, dilaporkan mati akibat arus balik air waduk beberapa waktu lalu. Musibah tersebut membuat para petani ikan jaring terapung (japung) di Kec. Cililin, Cihampelas, dan Cipongkor Kab. Bandung menderita kerugian sekira Rp 72 juta.

Sebagaimana diungkapkan Kepala Tata Usaha Dinas Peternakan dan Perikanan Pemkab Bandung Dadang Arisudin, Rabu (8/12), berdasarkan laporan yang diterimanya, ikan mas yang mati sebanyak dari 2,6 ton. Sedangkan ikan nila 8,25 ton.

Ikan yang mati, kata Dadang, terjadi diperairan Saguling yangmeliputi sembilan desa yakni Desa Bongas, Budiharja, Batulayang, Karanganyar, Mekarjaya, Tanjungjaya, Cipongkor, Citalem, dan Baranangsiang.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bandung Ir. Ernawan Mustika M.S., menjelaskan, arus balik terjadi karena proses pendinginan pada permukaan air. Sebaliknya suhu air di dasar waduk tetap tinggi. Ketika suhu air dari dasar mengalir ke permukaan itulah kematian ikan terjadi.

Dikatakan, tanda-tanda akan terjadinya arus balik biasanya diawali dengan adanya hujan lebat berturut-turut atau cuaca mendung tanpa angin beruntun selama tiga hari. Selain itu, air danau akan berubah warna menjadi cokelat kehitaman dan berbau belerang.

Jika tanda-tanda itu muncul, kata Ernawan, biasanya ikan dalam japung akan berenang vertikal dengan mulut megap-megap. Setelah itu, ikan akan berusaha ke luar dari jaring yang akhirnya menjadi lemas dan mati.

Berdasarkan data, kata Ernawan, kualitas air yang diukur setelah kematian ikan, menunjukkan kadar toksin seperti NH3 dan H2S (dari total SO4) cukup tinggi. Sedangkan konsentrasi O2 yang kritis akan menyebabkan ikan stres yang pada akhirnya mati lemas.

Read more!(Selengkapnya)

Thursday, December 09, 2004

Mahasiswa Makin Keras Protes Kenaikan Tarif Air PDAM (Students protest tariff increase - PDAM Cirebon)

Source: Pikiran Rakyat

Aksi unjuk rasa menolak kenaikan tarif air PDAM yang dilakukan sejumlah elemen gerakan mahasiswa di Kota Cirebon terus berlangsung. Aksi mereka terakhir yang digelar Rabu (8/12), nyaris bentrok dengan Satpol PP dan anggota kepolisian.

English Translation

Cirebon, (PR).-
The demonstration Action refused the PDAM rise in the water tariff that was carried out by several elements of the movement of the student in the Cirebon City continued to take place. Their action was last that was displayed on Wednesday (8/12), almost the clash with Satpol the GOVERNMENT REGULATION and the police member.

Tuntutan mahasiswa semakin meluas. Selain soal kenaikan tarif air dan pencabutan SK wali kota, mereka juga menuntut agar PDAM diaudit oleh tim auditor independen. Mahasiswa juga menduga ada indikasi terjadinya praktik KKN di BUMD itu. Masalah keuangan di perusahaan itu dinilai tidak transparan, bahkan termasuk soal kerugian yang menjadi salah satu alasan untuk menaikkan tarif.

Bentrokan nyaris terjadi setelah mahasiswa berdialog dengan Wali Kota Subardi dan salah satu pimpinan PDAM. Mahasiswa merasa tidak puas dengan pertemuan tersebut, sehingga saat akan ke luar ruangan sempat terjadi keributan. Sejumlah kursi diobrak-abrik mahasiswa. Melihat hal itu, anggota Satpol PP dan anggota Polresta Cirebon langsung maju meminta mahasiswa tertib.

Situasi di ruang adipura gedung balai kota sempat tegang, bahkan mahasiswa juga terlihat bersiap-siap. Namun, bentrok lebih lanjut bisa dicegah, Satpol PP dan anggota polisi hanya meminta mahasiswa segera membubarkan diri.

Seperti diketahui, keputusan menaikkan tarif air PDAM melalui SK Wali Kota No. 15/2004 menuai kecaman dan aksi protes mahasiswa. Kenaikan itu selain dinilai sangat memberatkan yang mencapai 40 persen, juga mekanismenya tidak ditempuh secara transparan. Selain itu, kenaikan yang diberlakukan mulai bulan November dinilai tidak lazim. Apalagi, kenaikan tersebut langsung dibebankan kepada konsumen melalui tagihan rekening air PDAM di bulan Desember 2004 ini.

Para konsumen PDAM yang mencapai 30.000 pelanggan lebih itu mengaku kaget. Sebab, secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan tagihan air mereka membengkak hampir dua kali lipat. Kebijakan kenaikan itu tentu saja memunculkan polemik dan menyulut protes keras dari mahasiswa dan pelanggan. Apalagi muncul tuduhan selama ini PDAM dikelola secara tidak transparan, padahal itu merupakan BUMD atau perusahaan publik. Laporan kerugian yang menjadi dasar kenaikan, sama sekali tidak dipercaya oleh pelanggan dan mahasiswa. Apalagi laporan keuangan diduga dilakukan oleh tim auditor yang tidak independen dan teruji di mata masyarakat (publik).


Dalam aksi hari Rabu (8/12), gedung DPRD memperoleh giliran pertama yang didatangi pengunjuk rasa. Setelah ditemui anggota Komisi A dan B DPRD, mahasiswa mengalihkan aksi dengan mendatangi gedung balai kota. Di DPRD, mereka ditemui anggota Komisi A, Iing Solikin dan Komisi B, H. Ahmad Azrul. Mahasiswa mengajukan tuntutan agar dewan meninjau ulang SK Wali Kota No. 15/2004 soal kenaikan tarif air PDAM, karena dinilai sangat menyengsarakan rakyat Cirebon.

Iing dan Azrul berjanji akan menyampaikan aspirasi mahasiswa ke pimpinan agar dibahas oleh dewan secara kelembagaan. Komisi A juga akan meneliti SK wali kota tadi. Jika terdapat kekeliruan, SK tersebut bisa ditinjau ulang.

Jawaban anggota dewan tampaknya tidak memuaskan mahasiswa. Sebab, seperti dituturkan Agung Supirman, koordinator APRA-Che, dewan seharusnya sudah paham tuntutan mahasiswa. Apalagi, penolakan kenaikan tarif air PDAM itu dalam beberapa hari ini telah disuarakan mahasiswa melalui sejumlah aksi unjuk rasa.

Dengan perasaan kecewa, mahasiswa kemudian meninggalkan gedung dewan menuju gedung balai kota. Di balai kota, mahasiswa ditemui Asda III, Ir. H. Sukma Z. Husin di ruang adipura. Wali Kota Subardi yang dituntut bisa berdialog kebetulan sedang tidak berada di kantornya, dia tengah menghadiri sebuah acara di tempat lain.

Melalui wakilnya, Tirto Wiguno, Umar, dan Lukman, mahasiswa mendesak agar bisa bertemu dengan Wali Kota Subardi dan Dirut PDAM Santoso Amman, sedang mahasiswa lainnya terus berorasi di lapangan gedung balai kota. Tak lama berselang, Wali Kota Subardi datang dan langsung menemui mahasiswa. Wali kota juga langsung mengundang Dirut PDAM, tapi yang hadir hanya Direktur Umum Ayu Dharliana, dan anggota dewan Iing dan Azrul.

Setuju diaudit

Dalam pertemuan itu terjadi perdebatan alot, karena tidak ada kata sepakat antara mahasiswa dan PDAM. Mahasiswa ngotot meminta agar SK kenaikan tarif dicabut, sementara wali kota dan PDAM bersikeras mempertahankan keputusan kenaikan itu.

Mahasiswa kembali mengajukan tujuh tuntutan yang selama berhari-hari berunjuk rasa selalu dikemukakan. Selain penolakan kenaikan tarif dan pencabutan SK wali kota, juga audit kembali secara terbuka keuangan PDAM. Pada kesempatan itu, disinggung soal adanya oknum pejabat yang melakukan pungutan liar, termasuk pengusutan tuntas uang jaminan pelanggan air PDAM yang diperkirakan berjumlah miliaran rupiah.

Dari sejumlah tuntutan mahasiswa tadi, Wali Kota Subardi menyetujui perlunya PDAM kembali diaudit oleh tim independen dan bisa dipertanggungjawabkan secara publik. Hanya saja, kapan audit itu dilakukan harus terlebih dulu dibicarakan waktunya yang tepat, kira-kira pada saat tutup buku pada akhir bulan Desember 2004 ini. "Saya setuju ada tim independen yang mengaudit keuangan PDAM. Tetapi, dalam penunjukan tim independen itu akan dibicarakan selanjutnya. Waktunya menunggu tutup buku akhir tahun," ujranya.

Menyangkut tuntutan pencabutan SK, Wali Kota Subardi menyatakan, tidak akan menarik SK No. 15/2004 tentang kenaikan tarif air PDAM itu. Sebab, selain sudah sesuai prosedur, untuk mencabut kembali tidak gampang dan membutuhkan waktu.

Wali Kota Subardi menuturkan, pemkot akan meneliti seluruh keputusan soal SK termasuk alasan dari PDAM. Bila hasilnya ternyata PDAM yang keliru, maka PDAM akan dikenai sanksi dan kenaikan bisa tinjau ulang. Tetapi, bila ternyata alasan PDAM masuk akal, maka dia akan tetap mempertahankan kenaikan air tersebut.

Read more!(Selengkapnya)